Goldman Sachs Siap Gelombang PHK Besar-besaran karena Transformasi AI
Goldman Sachs kembali memicu kekhawatiran di kalangan karyawan setelah manajemen puncak dipimpin CEO David Solomon mengumumkan rencana restrukturisasi skala besar yang akan memangkas ribuan posisi, sebagaimana tertuang dalam memo internal yang dibagikan secara luas pekan lalu dan berhasil diperoleh The Post. Penyebab utama di balik reorganisasi tersebut bukan tekanan pasar semata, melainkan lompatan teknologi berbasis kecerdasan buatan yang diyakini mampu mengotomasi sejumlah proses kerja sebelumnya membutuhkan sentuhan manusia, terutama di departemen back office, riset, bahkan sebagian fungsi legal compliance. Seorang pekerja senior di divisi teknologi informasi yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan bahwa timnya telah menerima surat penugasan untuk menelaah proyek-proyek machine learning yang bisa menggantikan alur kerja analis data, termasuk pembuatan model credit risk, penjualan aset terstruktur, hingga penyiapan pitch book untuk klien korporasi. Goldman sebelumnya sudah menginvestasikan lebih dari US$4 miliar selama empat tahun terakhir guna membangun infrastruktur cloud dan platform data lake—dua komponen penting yang menjadi fondasi pengembangan model AI generatif. Langkah ini dipercepat setelah bank melihat efisiensi operasional yang ditunjukkan oleh bank-bank Eropa seperti UBS dan Deutsche Bank yang lebih dulu memotong ribuan tenaga kerja setelah mengadopsi teknologi berbasis algoritma. Tak hanya itu, bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve, turut mendorong lembaga keuangan untuk meningkatkan ketahanan modal melalui pengurangan beban biaya operasional, yang salah satunya adalah pengurangan headcount. David Solomon dalam memo itu menegaskan bahwa transformasi ini bukti ketidaksetiaan terhadap karyawan, melainkan keharusan strategis agar Goldman tetap relevan di tengah perubahan industri finansial yang dipacu oleh inovasi teknologi. Ia menargetkan rasio cost-to-income turun ke kisaran 56 persen pada 2025 dari posisi 61 persen pada kuartal III 2023. Untuk mencapainya, Goldman berencana menaikkan alokasi modal untuk unit Global Banking & Markets menjadi 60 persen dari total modal, sementara konsumer platforms dan asset & wealth management diproyeksi menyusut kontribusinya. Sumber internal juga mengungkapkan bahwa divisi trading fixed income, currencies, and commodities (FICC) bakal merasakan dampak paling menyakitkan karena algoritma makin dominan mengeksekusi order besar dalam hitungan mikrodetik, sehingga membuat peran trader tradisional—yang sebelumnya menjadi mesin pencetak laba—sempit. Separuh dari sekitar 2.400 lowongan yang dibuka untuk program magang dan full-time analyst pada 2023 pun dipastikan ditiadakan pada 2024, mengingat kebutuhan tenaga kerja segar yang lebih sedikit ketika teknologi mampu menyelesaikan tugas-tugas repetitif. Tak ayal, ketegangan psikologis menyeruak di lantai-lantai kantor Goldman di pusat keuangan Manhattan; pesan grup WhatsApp internal yang dibaca The Post sarat dengan emotikon sedih dan stiker beruang yang menangis. Konsultan industri finansial mengatakan bahwa keputusan Goldman ini menjadi sinyal bagi bank-bank global lain bahwa era AI bukan lagi rumor, melainkan kenyataan yang siap memengaruhi berbagai lapisan organisasi.
Dampak gelombomatisasi Goldman Sachs diperkirakan menyentuh paling tidak 3.500 posisi di seluruh dunia, tersebar di 29 negara tempat bank tersebut beroperasi, dengan proporsi terbesar berada di Amerika Serikat (35 persen), disusul Eropa (28 persen), serta Asia Pasifik (22 persen). Departemen yang paling terdampak adalah operasional (operation) yang menangani settlement transaksi, kliring, dan pelaporan ke regulator. Seorang managing director di divisi operasional menceritakan bahwa timnya sudah mencanangkan program Digital Operations Transformation, di mana sekitar 70 persen proses matching dan reconciling trade di pasar modal bisa ditangani dengan teknologi robotic process automation (RPA) dan natural language processing (NLP) untuk mengekstrak data dari dokumen PDF. Proyeksi penghematan diperkirakan mencapai US$600 juta per tahun setelah program ini berjalan penuh pada paruh kedua 2025. Daftar pekerjaan yang dihilangkan secara bertahap meliputi: (1) Operations Analyst—posisi yang selama ini bertugas memverifikasi data transaksi—karena software berbasis AI kini mampu mendeteksi anomali dengan tingkat akurasi 99,7 persen, (2) Junior Credit Risk Associate yang mengerjakan pemodelan portofolio kredit, (3) KYC (Know Your Customer) Specialist yang melakukan verifikasi latar belakang nasabah, (4) Payroll Administrator di bagian human resources, (5) Trade Support Analyst untuk produk fixed income, dan (6) Surveillance Compliance Officer yang memonitor transaksi mencurigakan. Goldman Sachs juga menuturkan kepada karyawan bahwa bank akan menyediakan pendanaan pelatihan ulang (reskilling) sebesar US$30 juta untuk 1.200 orang yang masuk dalam kategori dapat disalurkan ke peran baru, seperti data scientist, machine learning engineer, dan cyber security specialist. Namun tawaran ini hanya berlaku bagi mereka yang memenuhi syarat akademik minimal S2 di bidang sains, teknologi, atau matematika, serta lolos serangkaian tes logika dan pemrograman. Karyawan yang tidak lolos seleksi akan diberikan paket pesangon yang terdiri dari: (a) 3 bulan gaji pokok untuk masa kerja kurang dari 2 tahun, (b) 6 bulan gaji pokok ditambah bonus pro-rata untuk masa kerja 2-5 tahun, (c) 9 bulan gaji pokok, bonus pro-rata, serta opsi pembelian saham Goldman dengan diskon 10 persen untuk masa kerja lebih dari 5 tahun. Bank juga menjanjikan jaminan kesehatan selama 12 bulan pasca-PHK dan akses ke portal rekrumen mitra, di antara 45 perusahaan teknologi yang menjalin kemitraan. Di luar program resmi tersebut, banyak karyawan senior yang memilih tawaran buy-out paket pensiun dini sebesar 1,3 kali total kompensasi tahunan. Kondisi ini mencerminkan tekanan kompleks bagi tenaga kerja di sektor keuangan global yang kini tidak hanya bersaing dengan sesama rekan kerja, melainkan juga dengan algoritma yang terus belajar dari pola data historis.
Spektrum transformasi AI di Goldman Sachs tidak berhenti pada efisiensi operasional, tetapi juga merambah ke ranah pengambilan keputusan investasi dan manajemen risiko. Bank tersebut secara diam-diam menjalankan proyek penguasaan teknologi deep learning yang diberi nama Project Atlas sejak 2021, bertujuan membangun model prediksi pergerakan pasar global dengan tingkat akurasi yang lebih tinggi dari model regresi linier konvensional. Atlas menggunakan arsitektur neural network berlapis-lapis yang disuplai dengan 15 petabyte data transaksi historis, data makroekonomi, hingga sentimen media sosial yang diperoleh melalui kemitraan dengan Twitter Firehose. Hasil simulasi internal menunjukkan bahwa model ini mampu memprediksi kenaikan Fed Funds Rate dalam batas kesalahan 7 basis poin, dibandingkan kesalahan 18 basis poin yang dihasilkan oleh model ekonometrik sebelumnya. Keberhasilan ini memaksa tim riset ekonomi Goldman memangku peran baru: mereka tidak lagi sekadar menyusun proyeksi, melainkan men-training ulang model Atlas setiap kali ada perubahan kebijakan moneter. Perubahan ini memperpendek rantai pengambilan keputusan; strategi trading bisa dirumuskan dalam hitungan jam, bukan hari. Di sisi lain, aspek legal dan etika mulai memunculkan pertanyaan serius. Goldman Sachs harus menunjukkan pada regulator bagaimana model Atlas mencegah bias data yang dapat merugikan investor golongan tertentu, khususnya terkait ras, jenis kelamin, atau lokasi geografis. Bank merespons dengan menambahkan layer fairness constraint yang secara otomatis menurunkan bobot fitur sensitif. Selain itu, tim audit internal harus menjalani sertifikasi Model Risk Management yang dikeluarkan oleh Federal Reserve, agar setiap prediksi Atlas bisa dijelaskan secara transparan (explainable AI). Di bidang wealth management, Goldman meluncurkan platform berbasis AI yang bernama Marcus Insights, yang menghimpun data perilaku pengeluaran nasabah dari kartu kredit, tagihan bulanan, hingga transaksi e-commerce. Platform ini kemudian men-generate perencanaan portofolio yang disesuaikan dengan profil risiko individu. Uji coba pada 50 ribu nasabah high-net-worth individu (HNWI) menunjukkan bahwa return on investment (ROI) mereka meningkat 2,3 persen di atas benchmark indeks S&P 500, dengan volatilitas 15 persen lebih rendah. Keberhasilan ini mempercepat rencana bank untuk mengurangi jumlah relationship manager (RM) yang selama ini menjadi ujung tombak penjualan produk investasi. Goldman memperkirakan akan mengurangi 300 posisi RM pada 2024, di saat bersamaan menaikkan kuota product specialist yang memiliki keahlian data science. Transformasi ini memperluas kesenjangan antara pekerja yang mampu beradaptasi dengan teknologi dan mereka yang terpaku pada cara konvensional.
Reaksi pasar terhadap langkah besar Goldman Sachs mencerminkan optimisme investor jangka panjang, meski dalam jangka pendemitra terjadi volatilitas harga saham. Pada hari pengumuman memo restrukturisasi, saham Goldman Sachs (GS) sempat terkoreksi 3,8 persen karena investor khawatir biaya pesangon akan menekan laba kuartalan. Namun, analis keuangan dari Morgan Stanley segera menaikkan rekomendasi dari equal-weight ke overweight, dengan target harga US$390 per saham—naik dari sebelumnya US$345. Alasannya, efisiensi biaya yang dicapai melalui otomasi AI diproyeksi dapat menaikkan earnings per share (EPS) sebesar 12 persen pada 2025. Investor institusional seperti BlackRock dan Vanguard meningkatkan kepemilikan mereka masing-masing sebanyak 1,7 persen dan 1,2 persen dalam sepekan setelah pengumuman. Sebuah laporan riset dari Morningstar menekankan bahwa Goldman berada di jalur yang benar untuk mempertahankan competitive moat, khususnya di bisnis trading algoritmik yang kini menyumbulkan pendapatan 46 persen dari total revenue. Di sisi kredit, lembaga pemeringkat Fitch memberikan outlook stabil, menilai bahwa penurunan beban gaji akan memperkuat profil capital adequacy ratio (CAR) dari 14,9 persen menjadi 16,2 persen. Sebagai perbandingan, Citigroup dan Wells Fargo—yang belum melakukan transformasi AI seluas Goldman—masih berjuat menjaga CAR di kisaran 13 persen. Di pasar obligasi, yield spread Goldman 10-year senior note menyempit 15 basis poin, menandakan penurunan risiko kredit yang dipersepsikan. Tetapi tidak semua pihak merespons positif. Ketua Asosiasi Pegawai Sektor Keuangan (FSU), Jason Cabrera, mengatakan bahwa gelombang PHK ini menandakan kegagalan perusahaan untuk berbagi hasil keuntungan dengan pekerja yang telah berjasa selama masa sulit pandemi. FSU bersama serikat pekerja lainnya menggalang aksi solidaritas di depan kantor pusat Goldman di New York, menuntut agar bank mengalokasikan 2 persen dari cost savings AI untuk program kesejahteraan karyawan, bukan sekadar pembelian kembali saham (buyback). Sementara itu, komunitas akademik menyoroti potensi systemic risk. Profesor ekonomi dari MIT, Prof. Daron Acemoglu, memperingatkan bahwa konsentrasi algoritma di beberapa bank besar dapat memicu herding behavior, memperkuat shock pasar ketika model-model AI salah menafsirkan sinyal risiko. Goldman merespons kritik ini dengan mengumumkan kemitraan riset lima tahun dengan MIT Sloan School of Management, menyediakan dana US$25 juta untuk studi dampak sosial-ekonomi AI di sektor jasa keuangan. Sorotan etika juga datang dari Komisi Sekuritas dan Bursa (SEC) yang meminta Goldman untuk menyerahkan dokumentasi alur kerja Atlas guna memastikan tidak ada praktik manipulasi pasar. Sementara itu, kompetitor seperti JPMorgan Chase dan Bank of America bergegas menaikkan anggaran teknologi masing-masing 15 persen untuk menyusun platform AI yang dapat menyaingi Goldman. Dapat disimpulkan bahwa transformasi AI yang dipimpin Goldman Sachs telah menggetarkan industri, menciptakan lingkungan di mana hanya institusi dengan kemampuan investasi teknologi besar yang sanggup bertahan.
Implikasi sosial dari gelombang PHK Goldman Sachs berdampak luas pada ekonomi perkotaan New York, karena sebanyak 7.200 karyawan Goldmman berdomisili di wilayah metropolitan, sebagian besar tinggal di borough Manhattan dan Brooklyn. Sektor pendukung seperti restoran, toko retail, hingga jasa persewaan apartemen high-end memperkirakan penurunan permintaan hingga 4 persen dalam enam bulan ke depan. Ketua Asosiasi Pengusaha Kuliner New York melaporkan bahwa omzet 56 restoran premium yang menjadi langganan eksekutif Goldman turun drastis, bahkan ada yang sampai tutup selama dua hari karena tidak mencapai break-even point. Di bidang properti, data dari Zillow menunjukkan persediaan apartemen tipe 2-kamar yang sebelumnya langka kini melonjak 18 persen, karena mantan karyawan terpaksa mencari hunian dengan biaya lebih rendah. Fenomena ini berisiko menurunkan hangan apartemen di Midtown sebesar 3-5 persen pada 2024. Di sisi lain, kenaikan jumlah talenta teknologi yang terserap oleh sektor fintech dan startup AI memperlihatkan polarisasi pasar kerja. Perusahaan seperti Stripe, Databricks, dan Two Sigma rajin memburu mantan analis kuantitatif Goldman, menawarkan gaji pokok 20 persen lebih tinggi ditambah opsi saham. Namun, mantan pekerja operasional atau middle office yang tidak memiliki keahlian coding mengalami kesulitan, karena lowongan yang tersedia umumnya membutuhkan minimal kemampuan Python atau SQL. Badan tenaga kerja kota New York mencatat tingkat pengangguran untuk kelompok pekerja usia 35-45 tahun di sektor keuangan meningkat dari 3,2 persen menjadi 5,1 persen hanya dalam tiga bulan. Sebagai respons, wali kota New York mempercepat program pelatihan ulang dengan anggaran US$40 juta, bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan edutech seperti General Assembly dan Codecademy. Program ini menjanjikan sertifikasi data analytics dalam 16 pekan, dengan tingkat keberhasilan penempatan kerja 72 persen. Di luar Amerika Serikat, kantor Goldman di Hong Kong dan Singapura juga mengalami efek beruntun. Otoritas Moneter Hong Kong menerima laporan kenaikan klaim asuransi pengangguran sebesar 11 persen pada sektor jasa keuangan pada kuartal IV 2023. Di London, Financial Conduct Authority (FCA) mewajibkan semua bank yang melakukan PHK massal untuk menyampaikan laporan dampak terhadap stabilitas sistemik, terutama jika jumlahnya melebihi 500 orang dalam satu tahun. Regulator Inggris khawatir bahwa ketidakpastian lapangan kerja akan menurunkan konsumsi rumah tangga, memperburam prospek pertumbuhan ekonomi yang sudah lesu karena Brexit. Sementara itu, pemerintah India memanfaatkan momentum ini untuk menggaet talenta balik (return talent scheme), menawarkan pajak penghasilan lebih rendah selama tiga tahun bagi warga India yang pernah bekerja di Goldman dan kini ingin membangun perusahaan fintech lokal. Fenomena ini memperlihatkan bahwa dampak sosial PHK Goldman tidak lagi lokal, tapi menciptakan dinamika global di mana negara-negara berlomba menyerap talenta untuk memperkuat basis inovasi mereka. Di tengah turbulensi, komunitas karyawan yang terkena PHK membentuk jaringan solidaritas daring, membuat forum Reddit bernama GSAlumni yang anggotanya mencapai 12 ribu orang. Mereka bertukar informasi lowongan, membagikan kiat wawancara, hingga menyediakan bantuan konsultasi psikologi secara gratis. Sebuah studi dari Universitas Columbia menemukan bahwa mantan karyawan Goldman yang tetap aktif di jaringan ini berhasil mendapatkan pekerjaan 30 persen lebih cepat dibandingkan mereka yang tidak terhubung. Kesimpulannya, dampak sosial dari transformasi AI di Goldman Sachs menggambarkan paradoks di mana efisiensi korporat berbenturan dengan kesejahteraan individu, memacu pemerintah dan masyarakat sipil untuk mencari solusi kolaboratif.
Iklan Morfotech