Vikramaditya Motwane Sorot Film AI Chiranjeevi Hanuman: Antara Inovasi dan Krisis Kreativitas Sinema
Vikramaditya Motwane, sutradara berbalut Udaan dan Sacred Games, menepis keras pengumuman film Chiranjeevi Hanuman – The Eternal sebagai proyek garapan kecerdasan buatan penuh yang akan diputar di bioskop mulai Januari 2026. Melalui cuitan tajam di X, ia berkata, Who TF needs writers and directors? lalu diperluas menjadi thread panjang bertajuk Kiamat Kreatif. Motwane menekankan bahwa karya seni seharusnya lahir dari konflik batin manusia, rasa sakit, dan imajinasi yang dipadamkan oleh pengalaman hidup—sesuatu yang tak bisa dipelajari algoritma. Ia memaparkan enam titik krusial: (1) hilangnya sentuhan emosional sutradara, (2) standarisasi narasi, (3) risiko monopoli teknologi, (4) degradasi etika kerja kru film, (5) penurunan kualitas kritik seni, dan (6) ancaman eksistensi perfilman indie India. Menurutnya, jika AI mulai membayangi proses kreatif, maka bioskop hanya akan jadi ruang pertunjukan visual tanpa jiwa.
Lahirnya Chiranjeevi Hanuman – The Eternal dicetuskan oleh startup Bengaluru, Neuronix Pictures, yang mengklaim telah melatih 1,2 miliar parameter model bahasa multi-modalia bernama KapiNet. Film ini mengisahkan kembali epos Ramayana dari sudut pandar Hanuman, dengan 100 persen asset digital diciptakan AI: (a) skenario dihasilkan oleh KapiNet versi 3.5, (b) storyboard otomatis via algoritma DiffusionStory, (c) layout kamera diputuskan oleh sistem Cinematon, (d) animasi karakter dibangun MorphRig berbasis gerak referensi manusia tanpa perlu motion capture, (e) dialog dubbing menggunakan teknologi suara Respeecher bahasa Hindi, Tamil, Telugu, dan Inggris, (f) musik latar digarap MusicLM berpadu simfoni digital orkestra, (g) grading warna otomatis dengan ColorMind, dan (h) distribusi trailer di platform short-form TikTok Reels AI, semua dikerjakan hanya dalam 45 hari. Proyek ini memakan biaya produksi 9 crore rupee, atau setara 1,1 juta USD—seperlima dari biaya film animasi India rata-rata.
Dampak sosial dan ekonomi dari gebrakan AI di industri perfilman India berpotensi mengguncang 12 juta pekerja sektor sinematografi. Sebagai ilustrasi, berikut 7 rantai pekerjaan yang terkena: (1) penulis naskah, (2) sutradara dan asisten, (3) sinematografer, (4) editor dan colorist, (5) desainer produksi, (6) aktor serta dubber, dan (7) kru lapangan. World Economic Forum memproyeksikan 30 persen lowongan pekerjaan kreatif di Asia Selatan bakal tergantikan AI pada 2030. Di sisi lain, petisi daring #SaveHumanStories di Change.org telah mengumpulkan 450 ribu tanda tangan untuk menolak penayangan Chiranjeevi Hanuman di jaringan INOX dan PVR. Sutradara senior Shyam Benegal turut menyuarakan keprihatinan, mengingatkan bahwa industri film Bollywood yang sudah terpuruk akibat pandemi kini berpotensi terhimpit lagi. Masyarakat penikmat film, khususnya kaum milenial Gen-Z, terbelah: sebagian merasa penasaran akan teknologi baru, sebagian lain memboikot keras demi menjaga warisan sinema humanis.
Menilik aspek hukum, sejauh ini India belum memiliki kerangka regulasi khusus untuk konten AI yang tayang komersial. Namun empat celah regulasi berikut bisa menjadi preseden: (i) masalah hak cipta atas training dataset yang menggunakan ribuan film klasik tanpa izin, (ii) potensi pelanggaran terhadap hak moral para kreator asli, (iii) label kewajiban transparansi AI belum diterapkan oleh Neuronix Pictures, dan (iv) ketidakjelasan pembagian royalti apabila film diputar di platform OTT global seperti Netflix. Kementerian Teknologi Informasi India sedang menggodok draf AI Regulation Act 2026 yang menuntut: (a) setiap film buatan AI wajib menampilkan watermark khusus, (b) pelaku usaha harus membayar dana kompensasi ke kolektif kreator sebesar 2 persen dari pendapatan kotor, (c) pemerintah membentuk dewan sensor khusus AI Film Certification Board untuk menilai muatan etika. Para pengacara kekayaan intelektual memperkirakan gugatan serentak akan muncul pasca perilisan, mirip kasus Stability AI di Amerika Serikat.
Lantas bagaimana sebaiknya para sineas menanggapi gelombang AI? Lima strategi adaptasi bisa dijalankan: pertama, humanisasi proses kreatif dengan menekankan narasi personal yang sulit direplikasi mesin; kedua, kolaborasi hibrida, di mana AI diposisikan sebagai asisten riset atau pre-visualisasi; ketiga, sertifikasi dan pelatihan ulang bagi kru film agar menguasai prompt engineering; keempat, pembangunan ekosistem film indie yang menolak dominasi modal teknologi besar; kelima, advokasi regulasi berbasis komunitas untuk memastikan pembagian keuntungan yang adil. Vikramaditya Motwane sendiri berencana mendirikan akademi skenario daring bernama StoryHuman Academy, menawarkan beasiswa 100 penulis naskah baru per tahun agar karya manusia tetap relevan. Ia berujar, Teknologi boleh melaju, tapi jangan sampai kita lupa bahwa cerita adalah jantung peradaban.
Iklan Morfotech