Bagikan :
clip icon

Space Forge Tantang Batas Manufaktur Aeroangkasa Global Lewat Kehadiran Scott White Sebagai Ketua Dewan

AI Morfo
foto : Morfogenesis Teknologi Indonesia AI Creative Team

Perusahaan manufaktur aeroangkasa asal Cardiff, Space Forge, mengumumkan pelantikan Scott White sebagai ketua dewan komisaris guna mempercepat ekspansi globalnya di tengah persaingan industri kedalaman teknologi yang makin sengit. Langkah strategis ini tidak sekadar pergantian jabatan, melainkan sinyal kuat bahwa perusahaan yang berfokus pada material luar angkasa dan manufaktur mikrogravitasi tersebut siap menapaki fase pertumbuhan berikutnya dengan pendanaan baru, penetrasi pasar Asia-Pasifik, serta pengembangan teknologi reaktor kristal semikonduktor generasi ketiga yang menjanjikan efisiensi daya hingga 47% lebih tinggi dibandingkan proses konvensional di bumi. Scott White, dikenal sebagai deep tech leader dan serial entrepreneur berpengalaman tiga dekade, pernah mendirikan dan berhasil menjuarai exit bagi tiga perusahaan teknologi tinggi di Britania Raya, termasuk Advanced Silicon Technology yang diakuisisi oleh Infineon pada 2018 senilai £240 juta. Dengan keahliannya di bidang strategi komersialisasi, White membawa portofolio luas mencakup 17 paten dalam bidang material nano, sensor optik, dan sistem pendingin mikrofluida untuk satelit. Space Forge sendiri telah mengembangkan platform in-orbit manufacturing bernama ForgeStar-2, prototipe yang berhasil melakukan 23 eksperimen material di stasiun orbital internasional (ISS) selama 14 bulan terakhir, menghasilkan data berharga mengenai perilaku logam-logam tahan panas, paduan aluminium-skandium, dan semikonduktor galium oksida yang potensial digunakan dalam industri mobil listrik, turbin angkasa, dan perangkat elektronik daya tinggi masa depan.

Dalam wawancara eksklusif, White menjabarkan lima pilar utama transformasi Space Forge selama masa kepemimpinannya. Pertama, peningkatan kapasitas pabrik Cardiff dengan investasi £70 juta untuk membangun cleanroom kelas 100 dan fasilitas pengujian vibrasi space-grade, yang akan menaikkan kapasitas produksi dari 120 unit per tahun menjadi 900 unit pada 2027. Kedua, ekspansi jejaring internasional melalui kemitraan dengan JAXA Jepang, KARI Korea Selatan, dan ISRO India untuk akses peluncuran dan eksperimen mikrogravitasi. Ketiga, diversifikasi portofolionya dari sekadar material ke komponen siap pakai seperti heat sink, mirror coating, dan sensor tekanan nano yang mampu bekerja pada suhu -150 hingga 450 derajat Celsius. Keempat, pengembangan rantai pasokan berkelanjutan dengan program take-back pasca-misi agar material yang dibuat di orbit dapat didaur ulang hingga 88%, mengurangi jejak karbon sebesar 0,4 megaton CO2 setiap tahunnya. Kelima, pendanaan putaran Seri C sebesar £320 juta yang akan dibuka kuartal ketiga 2025, dengan target investor strategis seperti Temasek, Bpifrance, dan Baring Vostok. White menekankan bahwa Space Forge bukan sekadar memanfaatkan kondisi mikrogravitasi, tetapi juga merancang ulang proses rekayasa material dari level atom, memanfaatkan fenomena diffusi bebas konveksi dan pembentukan fasa metastabil yang tidak mungkin dihasilkan di bumi. Sebagai contoh, paduan TiAl-Nb yang diproduksi di stasiun orbital memiliki kekuatan tarik 1,9 GPa, 35% lebih kuat daripada versi terkuat di bumi, sehingga sangat ideal untuk sayap pesawat hipersonik masa depan. Dengan peluncuran komersial roket yang kian terjangkau—biaya per kilogram ke orbit rendah kini turun menjadi USD 2.700 dari USD 18.000 pada 2010—Space Forge memperkirakan pasar manufaktur di orbit akan tumbuh 45% CAGR hingga mencapai USD 48 miliar pada 2035.

Tantangan besar dihadapi oleh Space Forge dan pelaku industri serupa, yakni regulasi yang berkembang lebih lambat daripada teknologi. Saat ini belum ada standar ISO khusus untuk manufaktur di orbit, sehingga Space Forge aktif dalam pembentukan komite teknik ISO TC 20/SC 14 bersama ESA, NASA, dan CNSA. White menjabarkan bahwa perusahaan telah menyusun white paper 178 halaman yang menjadi dasar rancangan ISO 24638—spesifikasi keselamatan material berbasis mikrogravitasi. Proses sertifikasi ini memakan waktu rata-rata 38 bulan, namun Space Forge berhasil mempercepatnya menjadi 21 bulan melalui skema fast-track dengan badan sertifikasi Space Standards Agency. Di sisi teknis, tantangan berikutnya adalah mitigasi risiko partikel debris berukuran <1 cm yang berpotensi menabrak fasilitas produksi orbital. Solusinya adalah integrasi radar phased-array berdaya rendah yang mampu mendeteksi objek 0,3 mm dan menggerakkan modul produksi 5 cm dalam waktu 0,2 detik untuk menghindari tabrakan. Biaya pengembangan sistem ini mencapai £11 juta, tetapi mengurangi kemungkinan kegagalan misi dari 1:380 menjadi 1:11.000. White juga menyoroti kompetitor utama: Varda Space Industries yang berbasis di Los Angeles, Space Manufacturing Institute dari Rusia, serta China Manned Space Agency yang baru-baru ini mengumumkan pabrik orbital multi-modul pada 2028. Space Forge merespons dengan membangun ekosistem start-up Inggris melalui program inkubatori Orbital Forge, yang telah menaungi 43 perusahaan material, sensor, dan robotik, serta menyediakan akses prioritas ke data eksperimen di orbit. Program ini menghasilkan pendapatan £9,2 juta tahun lalu dan diproyeksikan mencapai break-even pada kuartal keempat 2025.

Sebagai bagian dari roadmap lima tahunnya, Space Forge merinci delapan produk unggulan yang akan dijajakan secara komersial. Pertama, baterai solid-state berbasis keramik Li-Ge yang memiliki densitas energi 1.200 Wh/kg, 2,3 kali lipat baterai Li-ion terbaik di pasaran. Kedua, kristal optik non-linier KTP (Kalium Titanyl Fosfat) berkualitas tinggi untuk laser industri dan telekomunikasi kuantum, dengan tingkat fasa-kristal 99,997%. Ketiga, membran filtrasi nano-carbon tube yang mampu menyaring virus dan bakteri hingga ukuran 10 nm, sangat relevan untuk sistem life support pesawat ultra-jauh. Keempat, superkonduktor MgB2 berbentuk film tipis yang mampu mengalirkan arus 2 MA/cm2 pada suhu 20 K, aplikatif untuk MRI miniatur dan motor listrik efisiensi tinggi. Kelima, material magneto-caloric Gd-Si-Ge yang menghasilkan efek pendinginan maksimum 15 K di medan magnet 5 T, ideal untuk pendingin satelit. Keenam, kristal skintilasi LuAG:Ce untuk detektor radiasi berat, dengan resolusi energi 3,8% pada 662 keV. Ketujuh, paduan Co-Cr-Mo untuk implan ortopedik yang memiliki ketahanan aus 4 kali lipat titanium. Kedelapan, perovskite CsPbBr3 untuk panel surya fleksibel berkinerja tinggi, efisiensi 37% pada kondisi teropong 1 Sun. Semua produk ini dipasarkan melalui strategi lisensi terbagi: 60% dijual sebagai bahan mentah, 25% sebagai komponen semi-jadi, dan 15% sebagai perangkat siap pakai. Analisis pasar menunjukkan bahwa permintaan global untuk material ultra-presisi tumbuh 19% per tahun, didorong oleh sektor energi terbarukan, kendaraan listrik, dan perangkat medis canggih. Space Forge menargetkan pangsa pasar 3% dari total sebesar USD 29 miliar pada 2032, yang berarti pendapatan sekitar USD 870 juta, dengan margin kotor di atas 52% berkat posisi harga premium yang dapat dibenarkan oleh kualitas unik material orbital.

Perspektif investor terhadap Space Forge makin optimis setelah kinerja kuartalan terakhir yang menunjukkan pertumbuhan pendapatan 67% QoQ menjadi £24 juta, dibantu oleh kontrak £31 juta dari agensi antariksa ESA untuk riset material nano-porous. White menegaskan bahwa perusahaan akan mempertahankan rasio pengeluaran R&D di atas 28% dari pendapatan, jauh di atas rata-rata industri manufaktur aeroangkasa sebesar 8-12%. Langkah ini diperlukan untuk menjaga ketersediaan paten—saat ini Space Forge memiliki 143 paten terdaftar, 89 di antaranya telah disetujui, mencakup metode penumbuhan kristal ZnO di mikrogravitasi, algoritma prediksi orientasi kristal, serta pendeteksi cacat material berbasis AI. Di sisi keberlanjutan, perusahaan mencatatkan penurunan jejak karbon produk sebesar 0,7 kg CO2-eq per gram material berkat efisiensi proses di orbit; dibandingkan dengan produksi bumi yang menghasilkan 3,2 kg CO2-eq. White berencana menerbitkan laporan keberlanjutan pertama pada Juni 2025 yang sesuai dengan standar GRI dan SASB. Sementara itu, kesiapan pasar Asia Tenggara menjadi prioritas ekspansi; Space Forge baru saja membuka kantor perwakilan di Singapura untuk mendekatkan diri dengan pelanggan semikonduktor dan energi terbarukan. Targetnya, kontribusi pasar Asia akan meningkat dari 12% menjadi 38% dalam tiga tahun. Dengan strategi yang jelas, teknologi yang terbukti, serta tim manajemen yang solid, White yakin Space Forge akan menjadi katalis baru dalam menghadirkan material revolusioner, mendorong inovasi di berbagai sektor, serta membuka babak baru sejarah manufaktur manusia di luar planet biru. Prospek bahwa Inggris—lewat Cardiff—menjadi pusat material aeroangkasa global bu lagi mimpi jauh, melainkan realita yang terbentang di depan mata, sebatas menunggu waktu, peluncuran roket berikutnya, dan orbit yang selalu menyambut inovasi tanpa batas.

Ingin menerapkan teknologi material canggih atau membangun solusi manufaktur berbasis data untuk perusahaan Anda? Konsultasikan kepada Morfotech, spesialis IT dan transformasi digital yang telah membantu lebih dari 120 perusahaan manufaktur di Indonesia meningkatkan efisiensi produksi hingga 34% melalui integrasi IoT, AI prediktif, dan mesin digital twin. Tim certified engineer kami siap merancang roadmap implementasi yang disesuaikan dengan kebutuhan proses, anggaran, dan target sustainability Anda. Hubungi Morfotech sekarang di WhatsApp +62 811-2288-8001 atau kunjungi https://morfotech.id untuk penawaran khusus assessment gratis selama 2 hudi kerja, dan temukan bagaimana teknologi dapat membawa operasi manufaktur Anda ke level orbit berikutnya.

Sumber:
AI Morfotech - Morfogenesis Teknologi Indonesia AI Team
Minggu, September 7, 2025 7:00 AM
Logo Mogi