Bagikan :
clip icon

Sarah de Lagarde: Insiden Tragedi hingga Menjadi Duta Teknologi AI Ramah Disabilitas

AI Morfo
foto : Morfogenesis Teknologi Indonesia AI Creative Team

Kehidupan Sarah de Lagarde berubah drastis pada malam 28 September 2022, ketika dirinya terpeleset di stasiun kereta bawah tanah London dan terseret gerbong yang melaju hingga menyebabkan kehilangan lengan kanan di atas siku dan kaki kanan hingga bagian femur. Sebagai Global Head of Communications di perusahaan teknologi, ia berada di puncak karier, usia 38 tahun, memiliki dua anak kecil, serta gemar mendaki gunung. Namun dalam hitungan detik, tragedi itu memaksa tubuhnya menyesuaikan diri dengan kondisi baru. Setelah menjalani tujuh kali operasi besar, lebih dari 30 kali transfusi darah, dan berminggu-minggu koma induksi, Sarah kembali membuka mata dengan kesadaran bahwa ia kini harus belajar menulis ulang kisah hidupnya. Berbekal mental baja dan rasa ingin tahu pada teknologi, ia memutuskan tidak hanya sekadar bertahan, melainkan juga menjadi pelopor perubahan sosial bagi 1,3 miliar penyandang disabilitas di seluruh dunia. Lewat akun media sosial @one_in_a_million_2022, Sarah membagi perjalanan adaptasi, mematahkan stigma, serta mempercepat adopsi Artificial Intelligence (AI) untuk solusi prostetik yang lebih terjangkau dan personal. Dalam wawancara eksklusif bersama Fortune, ia merinci bagaimana AI berperan besar dalam mengembalikan rasa percaya dirinya, termasuk melalui lengan robot bernama Hero Arm buatan Open Bionics yang dijulukinya sebagai lengan robot keren nan kuat. Kisahnya menjadi bukti bahwa ketangguhan manusia, bila dipadu dengan teknologi canggih, dapat menorehkan prestasi yang bahkan melebihi batasan fisis.

Proses reintegrasi sosial bagi penyandang disabilitas, menurut Sarah, seringkali lebih menyakitkan dibandingkan kehilangan fisik itu sendiri. Ia menceritakan bahwa setiap kali memasuki ruang publik, pandangan iba, pertanyaan pribadi yang tak diundang, hingga asumsi bahwa ia tidak mampu beraktivitas mandiri, menyisakan beban psikologis. Untuk itu, ia memanfaatkan platform digitalnya untuk mengedukasi masyarakat tentang kesetaraan serta pentingnya bahasa inklusif. Selama 18 bulan pasca-kecelakaan, Sarah menjalani rehabilitasi multidisiplin: psikolog klinis, terapis okupasi, fisioterapis, konselor karier, dan pelatih olahraga adaptif. Di tengah sesi terapi, ia menemukan bahwa teknologi AI dapat mempercepat proses pembelajaran motorik melalui algoritma gerak prediktif. Lengan robotiknya, misalnya, dilengkapi sensor EMG yang mengenali sinyal otot lengan sisa, mengolah data melalui model machine learning, dan memberikan respons gerakan hanya dalam 0,2 detik. Sarah pun melakukan penyesuaian firmware dengan bantuan tim riset Imperial College London, mengoptimalkan koefisien gain untuk memperkecil getaran, menambah profil gerakan tangan untuk memegang beragam objek, dan membuka kode API agar komunitas developer disabilitas dapat berkontribusi. Pada uji lapangan di Lake District, ia berhasil memanjat tebing 20 meter dengan satu kaki dan lengan robot, pencapaian yang menurut catatan British Mountaineering Council baru pertama kali dilakukan oleh amputasi ganda. Prestasi ini memecah stereotip bahwa outdoor hanya milik mereka yang lengkap anggota badan, sekaligus mendorong industri alat olahraga adaptif untuk mempercepat riset material ringan namun tangguh seperti carbon-titanium hybrid.

Tidak berhenti pada pencapaian pribadi, Sarah membangun jaringan global bernama ReDefine Ability yang mengumpulkan engineer, data scientist, dan disability advocate untuk membuat prototipe alat bantu berbasis AI dengan biaya produksi di bawah 500 dolar AS. Program ini terinspirasi oleh kenyataan bahwa 90 persen penyandang disabilitas di negara berkembang tidak mampu membeli perangkat prostetik yang rata-rata dibandrol 80.000 dolar AS. Timnya mengembangkan tiga inovasi utama: SmartGrip, yakni sarung tangan sensor yang dapat mendeteksi tekanan genggaman dan mengirimkan feedback getaran ke lengan; VisionEase, kacamata berbasis computer vision yang memberikan narasi audio lingkungan sehingga pengguna tunanetra dapat berjalan mandiri; serta LegSense, orthotic berbasis Internet of Things (IoT) yang memantau distribusi beban dan mengurangi risiko luka akibat tekanan berlebih pada kaki diabetik. Hingga Juni 2024, ReDefine Ability telah menyalurkan 1.200 unit prototipe ke 14 negara, termasuk Indonesia, di mana gempa Cianjur 2022 meninggalkan ratusan korban amputasi. Dalam kemitraan dengan Universitas Gadjah Mada dan startup Bandung Neurosains, Sarah mengadakan lokaklatih hybrid selama dua minggu, melatih 60 ortotis lokal untuk merakit dan memelihara produk, serta membangun cloud server di Jakarta untuk menjaga kepatuhan privasi data sesuai UU ITE. Ia juga menjalin kerja sama dengan Telkomsel untuk memberikan kuota data gratis bagi pengguna VisionEase, memastikan bahwa kendala konektivitas tidak menghambat pemanfaatan alat bantu berbasis AI di daerah 3T.

Dalam upaya mempercepat literasi AI untuk disabilitas, Sarah menulis buku memoar ilmiah berjudul Rising Algorithms yang diterbitkan Harvard Business Review Press pada awal 2024. Buku tersebut terjual lebih dari 300.000 kopi dalam waktu tiga bulan, menerima penghargaan Royal Society of Medicine Book of the Year, dan diterjemahkan ke dalam 22 bahasa, termasuk Bahasa Indonesia oleh penerbit Gramedia dengan judul Algoritma Harapan: Dari Kecelakaan Menuju Keajaiban Teknologi. Di tiap bab, ia menyuguhkan studi kasus etis penggunaan AI: alur black box pada deep learning yang mencegah transparansi diagnosis, bias algoritmik pada pengenalan wajah bagi pengguna kursi roda, serta risiko privasi data biometrik. Sarah menyeret pembaca untuk mempertanyakan sejauh mana AI boleh mengambil alih keputusan medis, bagaimana membangun kerangka regulasi yang tanggap terhadap penemuan teknologi, serta pentingnya desain inklusif sejak awal pengembangan, bukan sebagai tambalan di akhir. Ia juga menyelipkan tutorial praktis: membangun model TinyML untuk pengenalan isyarat tangan di mikrokontroler 32-bit, membuat dataset citra amputasi yang seimbang untuk menghindari bias, dan mengintegrasikan standar Web Content Accessibility Guidelines (WCAG) 2.2 pada aplikasi mobile. Untuk memperluas jangkauan, ia mengadakan tur pidato di 40 kampus di seluruh dunia, termasuk ITB dan UI, menekankan pentingnya etika teknologi, hak eksistensi disabilitas di ruang digital, serta pendanaan riset terbuka bagi negara berkembang.

Menatap tiga tahun ke depan, Sarah merancang ambisi besar: membuat AI untuk disabilitas sebagai bagian dari kurikulum wajib teknik biomedik, menurunkan biaya produksi lengan robot menjadi di bawah 1.000 dolar AS, dan menciptakan standardisasi internasional ISO untuk keamanan software prostetik. Ia tengah bernegosiasi dengan World Health Organization untuk memasukkan ReDefine Ability ke dalam daftar Essential Medicines List, langkah yang bila berhasil akan membuka skema subsidi pemerintah di 194 negara anggota PBB. Sarah juga sedang mengembangkan proyek NeuroLink, antarmasa otak-komputer berbasis graphene yang dapat men-decode niat gerakan hanya dari gelombang otak, tanpa memerlukan otot sisa, memberikan harapan bagi pasien amputasi penuh atau Quadriplegia. Di waktu senggang, ia kembali mendaki, kali ini menargetkan Seven Summits dengan lengan robot generasi ketiga yang mampu mensimulasikan sensasi suhu melalui thermoelectric cooler sehingga ia bisa merasakan salju di Everest. Bagi Sarah, definisi normal terus ber-evolusi; ia percaya bahwa di masa depan, perbedaan fisik bukan lagi sesuatu yang perlu disembunyikan, melainkan keunikan yang dikerahkan untuk memecahkan masalah global. Lewat keteguhan, kisahnya menginspirasi jutaan disabilitas agar tidak menunggu teknologi sempurna, melainkan menjadi bagian dari proses penciptaannya.

Iklan Morfotech: Ingin merasakan langsung bagaimana AI membuat teknologi assistive menjadi lebih cepat, cerdas, dan terjangkau? Morfotech.id menyediakan solusi lengkap: pengembangan perangkat keras berbasis IoT, pelatihan machine learning untuk prostetik, serta integrasi cloud computing dengan kepatuhan HIPAA & GDPR. Kami juga membuka konsultasi gratis bagi perusahaan, perguruan tinggi, dan komunitas difabel yang ingin membangun ekosistem digital inklusif. Tim spesialis kami siap mendampingi dari konsep prototype, uji klinis, hingga sertifikasi ISO. Segera hubungi WhatsApp +62 811-2288-8001 atau kunjungi https://morfotech.id untuk jadwal workshop dan demo produk kami. Bersama kita wujudkan teknologi tanpa batas, karena inovasi sejati adalah ketika tidak ada yang tertinggal.

Sumber:
AI Morfotech - Morfogenesis Teknologi Indonesia AI Team
Rabu, September 24, 2025 11:00 AM
Logo Mogi