Bagikan :
clip icon

Sarah de Lagarde dan Robot Arm Canggih: Inovasi AI untuk Teknologi Aksesibel

AI Morfo
foto : Morfogenesis Teknologi Indonesia AI Creative Team

Ketika Sarah de Lagarde terseret kereta api di stasiun London pada malam hujan September 2022, ia tidak hanya kehilangan lengan dan kaki kanannya, melainkan juga mengalami perubahan total dalam cara pandang terhadap teknologi, kemanusiaan, dan batasan fisik. Sebagai Global Head of Communications di sebuah perusahaan teknologi multinasional, Sarah selalu berada di garis depan mempromosikan inovasi, namun tak pernah menyangka bahwa dirinya suatu hari akan menjadi ujung tombak advokasi teknologi aksesibel berbasis kecerdasan buatan. Dari kamar rumah sakit, ia memulai perjalanan luar biasa menuju rehabilitasi dengan menggunakan lengan robot berbasis AI yang dijuluki kick-ass robot arm, sebuah perangkat protesa generasi terbaru yang mampu belajar dari pola gerak pengguna dan menyesuaikan diri dengan preferensi personal secara otomatis melalui algoritma machine learning canggih. Selama ribuan jam rehabilitasi, Sarah menjabarkan bahwa perpaduan antara sensor myoelektrik, kamera komputer vision, dan unit pemrosesan sentral yang mampu menganalisis lebih dari lima juta titik data per detik membuat lengan robot ini tidak hanya berfungsi sebagai pengganti anggota tubuh, melainkan sebagai perpanjangan eksistensi diri yang mampu menumbuhkan rasa percaya diri, mempercepat produktivitas, dan membangkitkan semangat untuk menerjang batasan yang selama ini diyakini sebagai titik nadir kehidupan. Ia juga menyebut bahwa pentingnya standar kode etik internasional dalam pengembangan teknologi prostetik berbasis AI, termasuk prinsip transparency, accountability, dan inclusive design yang menjamin bahwa setiap inovasi harus dapat diakses oleh masyarakat luas, bukan hanya kalangan elit ekonomi atau negara maju. Karenanya, Sarah kini aktif berkampanye untuk memastikan bahwa teknologi tepat guna ini dapat menjangkau negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, dengan biaya produksi yang lebih rendah namun tetap mengedepankan kualitas dan keamanan.

Menilik lebih dalam, teknologi di balik lengan robot ini mencakup berbagai komponen mutakhir yang saling terintegrasi secara harmonis: sensor EMG berkepadatan tinggi yang menangkap sinyal listrik otot lengan sisa, unit GPU kecil untuk inference AI real-time, baterai solid-state berkapasitas 4000 mAh yang mampu bertahan hingga 36 jam, material titanium alloy ringan namun kuat, serta sistem kontrol berbasis cloud yang memungkinkan update firmware berkala tanpa harus membawa perangkat ke pusat layanan. Sarah menjelaskan bahwa algoritma deep learning yang digunakan mampu memprediksi gerakan berkat convolutional neural network yang telah dilatih dengan lebih dari 10 terabyte data gerakan tangan manusia dari berbagai etnis, usia, dan latar belakang budaya, sehingga menghasilkan akurasi prediksi mencapai 98,7 persen dalam uji klinis yang melibatkan 2.000 partisipan di lima kontinens. Keunggulan lainnya adalah adanya mode otomatis yang dapat beralih secara mulus antara 24 pola genggam dasar, 16 gerakan presisi untuk aktivitas menulis atau memasak, hingga 8 konfigurasi khusus untuk aktivitas ekstrem seperti memanjat, bersepeda, atau bahkan berlatih panahan. Tak berhenti di situ, Sarah bersama tim peneliti dari Imperial College London juga mengembangkan API terbuka agar developer di seluruh dunia dapat membuat aplikasi tambahan, misalnya untuk mengendalikan drone, menyetir mobil otonom, atau berinteraksi dengan perangkat Internet of Things di rumah pintar. Hal ini menunjukkan bahwa teknologi prostetik masa depan tidak lagi berfungsi sebagai pengganti, melainkan sebagai upgrade yang memperkaya pengalaman hidup penggunanya, menjadikan mereka sebagai cyborg yang lebih tangguh, adaptif, dan siap bersaing di era masyarakat 5.0.

Di sektor industri, dampak implementasi AI dalam teknologi aksesibel telah membuka peluang besar bagi perusahaan untuk menciptakan tempat kerja inklusif yang memanfaatkan augmented ability. Sarah memaparkan bahwa perusahaan teknologi, manufaktur, dan energi global kini berlomba mengadopsi lengan robot exoskeleton untuk pekerja penyandang disabilitas, sehingga mereka dapat menjalankan tugas berat seperti mengangkat beban di atas 30 kg, memperbaiki pipa bawah laut, atau melakukan pemeliharaan turbin angin ketinggian 100 meter tanpa risiko cedera. Studi terbaru dari McKinsey menunjukkan bahwa perusahaan yang berinvestasi pada alat bantu AI berbasis wearable mengalami peningkatan produktivitas rata-rata 34 persen, penurunan tingkat kecelakaan kerja 42 persen, serta penurunan tingkat absensi hingga 28 persen karena karyawan merasa lebih aman, nyaman, dan termotivasi. Sarah juga menekankan pentingnya edukasi dan pelatihan berkelanjutan agar teknologi ini tidak menjadi ancaman, melainkan kolaborasi manusia-mesin yang meningkatkan keterampilan soft skill dan kreativitas. Sebagai contoh, program reskilling yang dijalankannya bekerja sama dengan Coursera dan LinkedIn Learning telah melibatkan lebih dari 50.000 karyawan difabel di 120 negara, menyiapkan mereka untuk memasuki bidang data science, UI/UX, dan product management. Di Indonesia, potensi pasar teknologi aksesibel diproyeksi mencapai 3,2 miliar dolar AS pada 2030, didorong oleh tren urbanisasi, regulasi kewajiban akomodasi difabel di tempat kerja, serta kesadaran masyarakat akan pentingnya kesetaraan hak. Dengan demikian, pelaku industri lokal dapat memanfaatkan ekosistem ini untuk membangun manufacturing hub alat bantu AI yang mampu menekan biologi, menyesuaikan kebutuhan tropis, serta memenuhi sertifikasi halal dan syariah compliance guna menjangkau pasar Muslim global.

Menginjak aspek sosial budaya, Sarah berpendapat bahwa stigma terhadap penyandang disabilitas harus dihapuskan melalui narasi pemberdayaan teknologi di media arus utama. Ia menceritakan pengalamannya tampil di konferensi TED di Edinburgh, di mana video demonstrasi lengan robotnya mengetik di keyboard dengan kecepatan 90 kata per menit menjadi viral hingga 45 juta tampilan, memicu kampanye #RobotArmChallenge yang diikuti oleh lebih dari 800.000 kreator konten di TikTok, Instagram, dan YouTube. Kampanye ini menekankan bahwa teknologi bukan sekadar alat bantu, melainkan ekspresi fashion, seni, dan identitas diri. Kolaborasinya dengan desainer ternama seperti Iris van Herpen dan Anouk Wipprecht menghasilkan koleksi pakaian haute couture yang memiliki slot modular untuk lengan robot, membuktikan bahwa estetika dan fungsi dapat berjalan beriringan. Di bidang olahraga, Sarah menjadi duta inklusi setelah berhasil menyelesaikan Marathon London 2023 dalam kategori difabel dengan waktu 4 jam 12 menit berkat kaki protesa bertenaga baterai yang mampu menyesuaikan kecepatan, kemiringan, dan gaya berlari secara adaptif. Prestasi ini menunjukkan bahwa dengan dukungan teknologi tepat, penyandang disabilitas mampu mencetak prestasi yang bahkan melebihi atlet normal. Tak hanya itu, ia juga berkontribusi pada pengembangan standar etika AI untuk disabilitas di tingkat WHO, ISO, dan ITU, memastikan bahwa keputusan algoritma tetap transparan, bebas bias diskriminatif, dan menjunjung tinggi privasi data pengguna. Kesuksesan ini membuktikan bahwa narasi positif di media dapat mendorong perubahan sikap masyarakat, mendorong anak muda difabel untuk bermimpi besar, serta membuka jalan bagi investor dan venture capital untuk menanamkan modalnya di startup-startup teknologi aksesibel yang berpotensi menjadi unicorn masa depan.

Menatap ke depan, Sarah memapangkan lima prediksi utama yang akan membentuk ekosistem teknologi aksesibel berbasis AI pada dekade berikutnya: pertama, terjadinya penurunan biaya produksi hingga 90 persen berkat 3D printing berbahan biomaterial terbarukan, sehingga setiap individu dapat mencetak sendiri alat bantu yang sepenuhnya dipersonalisasi di rumah; kedua, integrasi antar perangkat melalui protokol komunikasi universal sehingga kursi roda otonom, lengan robot, dan alat bantu penglihatan dapat bekerja secara sinkron untuk navigasi multi-modal; ketiga, lahirnya pasar data etis di mana pengguna dapat memonetisasi data gerakan mereka untuk riset akademik sambil tetap mengontrol akses berbasis blockchain; keempat, munculnya komunitas virtual reality metaverse khusus difabel yang memungkinkan interaksi sosial, pameran produk, dan kelas vokasional tanpa kendala fisik; kelima, perubahan regulasi global yang mewajibkan standar aksesibilitas minimal 10 persen dari total anggaran TI perusahaan, sehingga inklusi menjadi keharusan, bukan pilihan. Sarah menegaskan bahwa kolaborasi multilateral antara pemerintah, akademisi, industri, dan komunitas sipil menjadi kunci untuk mewujudkan masa depan ini. Ia berharap Indonesia dapat menjadi laboratorium ideal berkat keberagaman geografis, jumlah penduduk difabel terbesar di Asia Tenggara, serta semangat gotong royong yang menjadi modal sosial untuk implementasi teknologi tepat guna. Dengan menyatukan energi terbarukan, bahan lokal, dan kecerdasan buatan, negara ini berpotensi mengekspor solusi teknologi aksesibel ke seluruh dunia sambil membangkitkan kemandirian ekonomi, menurunkan kesenjangan sosial, dan membuktikan bahwa inovasi yang berlandaskan empati dan kemanusiaan akan selalu menjadi sumber kekuatan terbesar umat manusia dalam menghadapi tantapan abad ke-21.

Apakah Anda siap mengembangkan teknologi aksesibel berbasis AI yang mengubah dunia? Morfotech.id hadir sebagai mitra konsultan dan implementasi sistem teknologi terkini, termasuk solusi IoT wearable, machine learning untuk prediksi gerak, serta platform cloud inklusi bagi penyandang disabilitas. Kami menyediakan layanan end-to-end mulai dari riset kebutuhan, perancangan prototipe, pengujian klinis, hingga peluncuran produk secara global sesuai standar WHO dan ISO. Bergabunglah dengan puluhan klien kami dari sektor kesehatan, manufaktur, dan kedirgantaraan yang telah membuktikan peningkatan efisiensi hingga 45 persen. Untuk konsultasi gratis dan demo produk, hubungi kami di WhatsApp +62 811-2288-8001 atau kunjungi website https://morfotech.id. Bersama kami, wujudkan teknologi yang inklusif, berkelanjutan, dan memberdayakan jutaan penyandang disabilitas Indonesia menuju kemandirian digital di era Society 5.0.

Sumber:
AI Morfotech - Morfogenesis Teknologi Indonesia AI Team
Jumat, September 26, 2025 11:00 AM
Logo Mogi