Bagikan :
clip icon

Permintaan AI Melesat, Jensen Huang Nvidia Menyesal Tidak Investasi Lebih di OpenAI

AI Morfo
foto : Morfogenesis Teknologi Indonesia Creative Team

Permintaan komputasi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) di seluruh dunia tengah mengalami lonjakan yang luar biasa. Jensen Huang, CEO Nvidia, menyatakan bahwa permintaan akan komputasi meningkat secara substansial dalam enam bulan terakhir. Dalam wawancara televisi dengan CNBC, Huang mengungkapkan bahwa pertumbuhan ini tidak hanya terjadi secara global, tetapi juga terlihat di berbagai sektor industri. Ia menyebutkan bahwa tren ini baru permulaan, dan pasar masih memiliki ruang besar untuk berkembang. Nvidia sebagai produsen chip grafis atau GPU yang menjadi tulang punggung komputasi AI merasakan dampak langsung dari peningkatan ini. Perusahaan yang berbasis di Santa Clara, California, ini mencatat penjualan GPU untuk pusat data meroket hingga ratusan persen dibandingkan periode sebelumnya. Huang menegaskan bahwa GPU mereka kini digunakan oleh hampir seluruh perusahaan teknologi besar, mulai dari cloud provider seperti Amazon Web Services, Microsoft Azure, dan Google Cloud Platform, hingga perusahaan rintisan atau startup di bidang AI generatif. Peningkatan permintaan ini tidak lepas dari maraknya model AI seperti ChatGPT, GPT-4, Claude, Gemini, dan lain sebagainya yang memerlukan infrastruktur komputasi sangat besar untuk proses training maupun inferensi. Dalam konferensi pers terakhir, Huang juga menyatakan bahwa gelombang adopsi AI generatif baru saja dimulai, dan ia memperkirakan setidaknya akan terus tumbuh selama dekade ke depan. Ia menambahkan bahwa transformasi digital yang selama ini dijalankan berbagai perusahaan kini memasuki fase baru, yaitu fase AI-first, di mana setiap aplikasi akan memiliki komponen AI yang membutuhkan kemampuan komputasi GPU. Selain itu, permintaan ini juga datang dari berbagai wilayah di luar Amerika Serikat, termasuk Asia Tenggara, Eropa, Timur Tengah, dan Afrika yang mulai membangun pusat data yang bertenaga GPU untuk keperluan AI lokal.

Selain menyoroti tren permintaan, Jensen Huang juga mengungkapkan penyesalan pribadinya karena tidak berinvestasi lebih besar di perusahaan-perusahaan AI raksasa seperti OpenAI, pembuat ChatGPT. Ia mengatakan bahwa ketika pertama kali mendengar konsep AI generatif, ia sudah yakin teknologi itu akan mengubah dunia, namun ia tidak menyangka bahwa laju pertumbuhannya akan sangat pesat. Menurutnya, OpenAI merupakan salah satu perusahaan yang berhasil menunjukkan bahwa skema transformer yang diperkenalkan oleh Google pada tahun 2017 benar-benar bisa dimanfaatkan untuk membangun model bahasa yang sangat besar atau large language model (LLM) yang mampu menjawab berbagai pertanyaan manusia secara natural. Huang menyebut bahwa keputusannya untuk tidak menanamkan modal lebih besar di OpenAI merupakan salah satu penyesalan terbesarnya, karena ia melihat potensi luar biasa dari perusahaan tersebut. Ia juga menyampaikan bahwa Nvidia sendiri sebenarnya telah menyediakan puluhan ribu GPU A100 dan H100 secara bertahap untuk mendukung pelatihan model GPT-3, GPT-3,5, dan GPT-4, namun investasi finansial langsung tidak dilakukan karena beberapa pertimbangan internal. Di sisi lain, Huang merasa lega karena Nvidia tetap bisa menjadi bagian dari ekosistem AI dengan menyediakan infrastruktur utama. Ia menambahkan bahwa penyesalan tersebut menjadi pembelajaran berharga untuk mengevaluasi kembali strategi investasi Nvidia di masa depan, khususnya terhadap perusahaan AI yang memiliki visi jangka panjang dan teknologi inovatif. Tidak hanya OpenAI, Huang juga menyoroti perusahaan-perusahaan lain seperti Anthropic, Cohere, Stability AI, dan Hugging Face yang menurutnya juga memiliki nilai strategis sangat tinggi. Ia berencana untuk lebih agresif dalam menggalang kemitraan strategis dan investasi ventura ke depannya, termasuk di wilayah Asia Tenggara yang menjadi basis pertumbuhan ekonomi digital baru.

Dalam wawancara yang sama, Huang juga menjelaskan bahwa permintaan GPU untuk AI tidak hanya datang dari perusahaan teknologi besar, tetapi juga dari perusahaan tradisional yang ingin melakukan transformasi digital. Ia memberikan contoh sektor jasa keuangan, layanan kesehatan, otomotif, manufaktur, dan bahkan sektor publik yang kini mulai mengembangkan model AI sendiri. Contohnya, bank-bank besar menggunakan GPU Nvidia untuk mengembangkan model deteksi fraud secara real-time, rumah sakit menggunakannya untuk analisis medis dan diagnosis dini, serta perusahaan otomotif untuk sistem berkendara otonom. Huang menyebut bahwa tren ini membuat pangsa pasar GPU menjadi lebih luas, dan Nvidia pun berinovasi menghadirkan berbagai lini produk baru, mulai dari H100 untuk pusat data skala besar, L40S untuk perusahaan menengah, hingga GPU A800 dan H800 untuk pasar tertentu. Ia juga memperkenalkan konsep GPU-as-a-Service, di mana perusahaan bisa menyewa kapasitas komputasi AI secara cloud tanpa harus membeli perangkat keras secara langsung. Konsep ini menurutnya mempercepat adopsi AI di kalangan organisasi yang memiliki keterbatasan modal. Selanjutnya, Huang menambahkan bahwa Nvidia tengah mengembangkan arsitektur GPU generasi berikutnya, yaitu arsitektur Blackwell, yang akan memberikan peningkatan performa dan efisiensi energi hingga berkali-kali lipat. Arsitektur ini diharapkan bisa menjadi pilihan utama untuk training model AI generatif berukuran sangat besar atau extra large scale. Ia juga menyatakan bahwa Nvidia akan memperkuat ekosistem software-nya, termasuk CUDA, cuDNN, TensorRT, dan platform AI enterprise, sehingga developer dan data scientist bisa lebih mudah mengembangkan aplikasi AI.

Huang menekankan bahwa tantangan terbesar saat ini adalah memastikan pasokan GPU tetap stabil di tengah lonjakan permintaan global. Ia mengakui bahwa Nvidia mengalami keterbatasan kapasitas produksi karena rantai pasokan semikonduktor global yang masih pulih dari dampak pandemi dan keterbatasan fabrikasi chip di beberapa wilayah. Untuk mengatasinya, Nvidia telah menandatangani berbagai kemitraan strategis dengan perusahaan fabrikasi seperti TSMC, Samsung, dan Intel untuk menambah kapasitas produksi chip AI-nya. Selain itu, Nvidia juga memperluas basis produksinya ke luar Asia, termasuk Amerika Serikat dan Eropa, guna mengurangi ketergantungan pada satu wilayah. Huang menyatakan bahwa diversifikasi ini penting untuk menjaga ketahanan pasokan dan memenuhi kebutuhan pelanggan global. Di sisi lain, ia juga berbicara tentang tantangan regulasi dan geopolitik yang mempengaruhi distribusi GPU ke beberapa negara. Sebagai contoh, pembatasan ekspor ke negara-negara tertentu mengharuskan Nvidia membuat varian khusus seperti A800 dan H800 yang tetap memenuhi standar performa namun sesuai ketentuan regulasi. Huang berharap situasi geopolitik bisa lebih stabil ke depannya sehingga inovasi teknologi dapat dinikmati secara global tanpa hambatan. Ia juga menyampaikan bahwa Nvidia akan terus bekerja sama dengan pemerintah dan regulator untuk memastikan kepatuhan terhadap hukum dan tetap mendukung ekosistem AI global. Menyikapi isu lingkungan, Huang menambahkan bahwa GPU generasi terbaru mereka dirancang lebih efisien secara energi, mengingat konsumsi daya pusat data AI yang besar. Ia berjanji akan terus mengembangkan teknologi yang lebih ramah lingkungan dan mendukung inisiatif energi terbarukan.

Melihat masa depan, Huang optimis bahwa gelombang AI generatif akan terus berkembang dan memicu lahirnya berbagai model aplikasi baru yang bahkan belum terbayangkan saat ini. Ia memperkirakan bahwa AI akan menjadi bagian integral dari setiap aspek kehidupan, mulai dari pendidikan personalisasi, penelitian ilmiah, hingga hiburan interaktif. Nvidia pun berencana untuk meluncurkan platform baru bernama AI Foundations, yang memungkinkan perusahaan membangun model AI khusus atau custom model sesuai kebutuhan domain masing-masing. Platform ini akan menyediakan toolkit lengkap, mulai dari data preprocessing, training, fine-tuning, hingga deployment di cloud maupun on-premise. Huang juga menyatakan bahwa Nvidia akan memperkuat dukungannya terhadap komunitas open source, khususnya melalui inisiatif seperti Hugging Face, NeMo, dan RAPIDS agar inovasi AI bisa lebih merata. Selain itu, ia menegaskan bahwa kemitraan strategis dengan hyperscaler cloud akan terus diperdalam, sehingga pelanggan bisa mengakses GPU terbaru secara instan tanpa investasi awal yang besar. Huang percaya bahwa AI memiliki potensi untuk meningkatkan produktivitas manusia secara signifikan, dan Nvidia ingin menjadi enabler utama dalam transformasi ini. Ia berharap perusahaan-perusahaan di Indonesia dan negara berkembang lainnya ikut memanfaatkan momentum ini untuk melompat lebih cepat dalam membangun ekonomi digital berbasis AI. Ia juga menyinggung pentingnya edukasi dan pelatihan SDM agar masyarakat siap menyongsong masa depan yang semakin otomatis.

Ingin mengembangkan proyek AI namun terkendala infrastruktur GPU? Pusatkan solusi Anda pada Morfotech! Kami menyediakan server GPU cloud berkinerja tinggi untuk training hingga deployment model machine learning dan deep learning Anda. Tersedia instance lengkap mulai dari NVIDIA A100, H100, hingga L40S, dengan dukungan CUDA, cuDNN, dan TensorRT terkini. Tidak perlu investasi modal besar, Anda bisa sewa per jam, harian, atau bulanan sesuai kebutuhan. Tim support kami siap 24/7 membantu konfigurasi cluster dan optimasi workload. Diskusikan kebutuhan AI Anda dan dapatkan penawaran menarik. Kunjungi https://morfotech.id atau hubungi layanan pelanggan kami di +62 811-2288-8001 (WhatsApp tersedia). Mari kembangkan inovasi AI Indonesia bersama Morfotech!

Sumber:
AI Morfotech - Morfogenesis Teknologi Indonesia AI Team
Kamis, Oktober 9, 2025 2:05 PM
Logo Mogi