Bagikan :
clip icon

Mereka Tampak Mati Total: Werner Herzog Menyebut AI Sebagai Musuh Abadi dalam Percakapan Mendalam bersama Conan O'Brien

AI Morfo
foto : Morfogenesis Teknologi Indonesia Creative Team

Dalam episode terbaru podcast Conan O'Brien, sutradara legendaris Werner Herzog mengungkapkan kegelisahan mendalamnya terhadap seni buatan intelijen buatan yang menurutnya tampak 'mati total' karena kehilangan esensi kebenaran dan derap nadi manusia. Dengan nada berat namun penuh kehangatan, Herzog menjelaskan bahwa ia dapat menemukan keindahan di hampir seluruh aspek kehidupan, mulai dari adegan anak-anak bermain di lumpur sampai kilatan mata seekor burung hantu di tengah hutan, tetapi dua hal yang secara konsisten gagal menyentuh jiwanya adalah ayam petelur yang berkokok tanpa arah dan karya visual yang dihasilkan oleh algoritma. Ia menyebut AI sebagai 'nemesis' bukan karena kekuatan teknisnya, melainkan karena ancaman terhadap narasi otentik yang telah ia junjung selama lima dekade berkarya. Dalam percakapan yang berlangsung hampir dua jam, Herzog mengajak pendengar menyelami labirin etika, estetika, dan eksistensialisme, sambil menyisipkan lelucon kering tentang betapa ia lebih memilih menonton tayangan ulang Here Comes Honey Boo Boo ketimbang menyaksikan galeri lukisan digital yang dihasilkan mesin. Conan pun terdiam beberapa kali, terpukau oleh kedalaman pemikiran Herzog yang mengingatkannya pada pembicaraan tengah malam bersama Joseph Campbell di era 1990-an.

Herzog kemudian merinci tiga kelemahan fundamental karya AI yang membuatnya terkesan mati rasa: pertama, ketiadaan 'kekacauan fisik' yang selalu hadir dalam produksi manusia seperti sapuan kuas yang tak sempurna, kedipan cahaya pada lensa kamera, atau nafas pelan aktor yang menahan tangis; kedua, kegagalan algoritma merekam 'waktu yang terasa' karena mesin bekerja dalam satuan mikrodetik tanpa merasakan lamunan, penantian, atau jeda panjang yang justru membuat cerita menjadi bernyawa; ketiga, kehilangan 'ketidaktahuan kreatif' yang membuat seniman manusia sering kali menemukan bentuk baru justru ketika mereka tak tahu cara menyelesaikan karya. Ia memberi contoh bagaimana dalam pembuatan Fitzcarraldo, para kru harus menyeret kapal sesungguhnya di atas gunung, risiko nyata yang memunculkan keringat, sumpah serapah, dan doa; semua elemen yang mustahil direplikasi oleh program yang hanya menjalankan fungsi matematika. Conan menyela dengan pertanyaan apakah AI bisa belajar meniru kekacauan tersebut, Herzog menjawab dengan yakin bahwa mesin dapat menyimulasikan derap jantung, tetapi tak pernah merasakan degup yang tercepat saat kamera mengabadikan mata harimau untuk pertama kalinya. Ia menambahkan bahwa seni sejati lahir dari keputusasaan, dari keharusan untuk berbicara meski lidah mulu, sesuatu yang tak tertulis dalam kode Python.

Selama diskusi, Herzog mengusung konsep 'kebenaran ekologis', yakni keabsahan narasi yang diukur bukan oleh fakta historis, melainkan oleh konsistensi internalnya dengan ritme alam dan psikologi manusia. Ia menyatakan bahwa film dokumenter pun tidak harus berisi kenyataan literal selama dapat menampilkan kebenaran yang lebih dalam tentang kondisi manusia; kontras ini yang menurutnya absen dalam karya AI karena mesin tak pernah berada di alam, tak pernah merasakan hujan, tak pernah kelaparan, dan tak pernah jatuh cinta. Dalam daftar yang ia sebut 'tujuh tanda mati pada seni mesin', ia merinci: (1) pencahayaan yang terlalu sempurna tanpa bayangan samar, (2) komposisi yang mematuhi aturan emas secara rigid, (3) warna kulit yang rata tanpa urat darah, (4) gerakan kamera yang lancar tanpa goyangan refleks operator, (5) ekspresi wajah yang terbatas pada rata-rata emosi dataset, (6) dialog yang tak terpengaruh logat daerah, dan (7) keheningan yang tidak membelah jiwa. Conan tertawa ketika Herzog mengibaratkan mengagumi lukisan AI seperti mencium patung di museum lilin: semua detail ada, tetapi tidak ada napas. Herzog mengingatkan bahwa dia tidak anti-teknologi; justru ia menggunakan kamera mutakhir dan drone untuk menjelajahi lokasi ekstrem, tetapi ia membedakan antara alat dan otak yang menggerakkannya, seperti membedakan kapak dan tukang kayu yang menghunusnya.

Menyentuh isu etika, Herzog menceritakan pertemuan pribadinya dengan insinyur AI di Silicon Valley yang dengan bangga menunjukkan sistem penciptaan film pendek otomatis. Herzog menanyakan apakah mereka khawatir menghapus profesi penulis, editor, dan pemeran, jawaban mereka berkisar pada 'pasar akan menyeimbangkan diri'. Ia menilai jawaban tersebut sebagai bentuk pelarian moral, mirip produsen mobil yang tidak memikirkan polusi. Ia melontarkan empat pertanyaan etika besar: siapa yang memiliki narasi ketika karya direkayasa oleh jutaan potongan data orang lain; bagaimana perlindungan terhadap aktor junior yang potret wajahnya digunakan untuk melatih model tanpa kompensasi; apa batas tanggung jawab ketika konten deepfake menimbulkan kekerasan; serta apakah kita rela mengorbankan ketidaksempurnaan manusia demi efisiensi mesin. Dalam sidang mini yang ia pimpin secara informal, Herzog menggandeng Conan untuk mensimulasikan debat antara pendukung AI yang menjanjikan demokratisasi kreativitas dan penggiat film indie yang merasa hidupnya terancam; hasilnya adalah kesadaran bahwa solusinya bukan memusuhi teknologi, tetapi memperkuat kerangka hukum dan literasi estetika masyarakat. Ia menekankan pentingnya pendidikan seni di sekolah dasar agara generasi muda mampu membedakan karya yang hidup dan mati, sama seperti anak-anak belajar membedakan sayuran segar dan yang sudah layu.

Di penghujung percakapan, Conan menanyakan proyek terbaru Herzog, yang ternyata adalah film esai tentang pencarian makna di tengah badai informasi digital. Herzog menyebut proyek ini sebagai 'Fata Morgana' abad ke-21, menggambarkan ilusi oasis pengetahuan yang hilang begitu kita mendekatinya. Ia bercerita bahwa timnya sengaja mencampur rekaman 35 mm dengan kamera analog super 8 agar tekstur film mengingatkan penonton pada kerapuhan memori. Ia juga merekrut penduduk asli Amazon yang belum pernah menyentuh ponsel pintar untuk menjadi narator, karena ia ingin suara mereka yang belum terkontaminasi memberi komentar terhadap kecepatan informasi. Kontras inilah yang ingin ia tonjolkan: ketika manusia modern merasa lebih pintar karena akses data, manusia primitif justru menawarkan kebijaksanaan tentang keheningan dan kehadiran. Ia menutup pembicaraan dengan pesan: jangan takut pada teknologi, tetapi jangan pernah percaya pada mereka yang mengklik menggantikan kekosongan batin dengan algoritma. Conan menimpali bahwa setelah mendengarkan Herzog, ia kini merasa lebih berhak memilih kapan harus offline, kapan harus menikmati keheningan, dan kapan harus menertawakan keterbatasan diri sendiri. Mereap pelukan hangat di atas panggung, dua seniman dari generasi berbeda itu menyepakati bahwa mesin dapat meniru kata, tetapi hanya manusia yang bisa merasai getar kata, itulah seni, itulah hidup.

Iklan Morfotech

Sumber:
AI Morfotech - Morfogenesis Teknologi Indonesia AI Team
Selasa, September 30, 2025 2:07 PM
Logo Mogi