Bagikan :
clip icon

Mengoptimalkan Uji Klinis dengan Platform Manajemen Data Yonalink: Wawancara Eksklusif dengan Co-Founder & CEO Iddo Peleg

AI Morfo
foto : Morfogenesis Teknologi Indonesia AI Creative Team

Di tengah tantangan besar industri farmasetika dalam menjalankan uji klinis secara efisien, Yonalink hadir sebagai solusi revolusioner berbasis teknologi untuk manajemen data percobaan klinis. Sejak didirikan pada tahun 2018 di Silicon Valley oleh Iddo Peleg bersama tim insinyur biomedik berpengalaman, perusahaan ini berkomitmen mempercepat pengembangan obat-obatan baru melalui otomasi seluruh rantai pengumpulan, manajemen, dan transmisi data uji klinis. Platform Software-as-a-Service (SaaS) Yonalink mengintegrasikan Electronic Health Record (EHR), Electronic Data Capture (EDC), Clinical Trial Management System (CTMS), Randomization and Drug Supply Management System (RTSM/IXRS), dan Laboratory Information Management System (LIMS) menjadi satu antarmuka terpadu berbasis cloud. Arsitektur mikro-layanan memungkinkan penyesuaian cepat sesuai protokol, standar HL7 FHIR, CDISC ODM, serta regulasi FDA 21 CFR Part 11, EMA GCP, dan ICH E6(R2). Fitur unggulan mencakup: 1) Otomasi pemetaan bidian data dari berbagai sumber menggunakan algoritma kecerdasan buatan berbasis pembelajaran mendalam, 2) Validasi real-time terhadap aturan konsistensi data, keamanan pasien, dan kriteria inklusi/eksklusi, 3) Dasbor interaktif untuk memantau metrik operasional seperti jumlah subjek direkrut, penyimpangan protokol, serta ketersediaan obat studi, 4) Pemrosesan bayesian adaptif untuk mengoptimalkan ukuran sampel dan uji interim, 5) Integrasi API terbuka ke beragam sistem lab mitra seperti LabCorp, Quest Diagnostics, dan Cerba. Studi kasus menunjukkan pengguna Yonalink berhasil memangkas waktu setup studi hingga 60 persen, mengurangi biaya operasional CRO hingga 40 persen, serta meningkatkan kualitas data clean dari 75 persen menjadi 95 persen dalam tiga bulan pertama implementasi. Sejak diluncurkan, lebih dari 200 sponsor farmasi, lembaga penelitian, dan rumah sakit akademik telah mengadopsi Yonalink untuk lebih dari 500 studi fase I-III, termasuk percobaan onkologi, penyakit langka, dan vaksin COVID-19 yang memerlukan pemantauan pasien real-time.

Pada wawancara eksklusif bersama Iddo Peleg, Co-Founder & Chief Executive Officer Yonalink, kami mendalami filosofi desain platform, tantangan pasar, serta roadmap fitur masa depan. Peleg menjelaskan bahwa visinya adalah menghapus hambatan teknis yang selama ini menghambat kolaborasi antara sponsor, CRO, situs uji klinis, dan peserta studi. Ia menekankan bahwa 80 persen waktu persiapan studi dihabiskan untuk tugas manual berulang seperti menyalin data demografi pasien dari EHR ke EDC, memvalidasi lembar laboratorium PDF, serta memastikan randomisasi sesuai blok terstratifikasi. Untuk mengatasinya, tim rekayasa datanya mengembangkan mesin inferensi berbasis aturan yang secara otomatis mengekstrak nilai numerik dari hasil lab dan membandingkannya dengan rentang normal yang dipublikasikan oleh CLSI, sehingga flag abnormal dapat dipicu tanpa intervensi manusia. Selain itu, mereka membangun katalog data elemen standar berbasis CDASH SDTM yang berisi lebih dari 2.000 variabel klinis dan 1.500 terminologi medis LOINC dan SNOMED CT. Dengan menerapkan pendekatan metadata driven, tim Yonalink berhasil memperpendek waktu konfigurasi CRF dari tiga minggu menjadi dua hari kerja. Peleg juga berbagi bahwa dalam beberapa studi pandemi COVID-19, platformnya memungkinkan transfer langsung hasil PCR dari lab klinis ke sistem pemantauan tata kelola data secara otomatis, mengurangi keterlambatan pelaporan dari tujuh hari menjadi tiga jam. Hal ini mempercepat keputusan intervensi keselamatan pasien ketika nilai enzim hati melebihi ambang batas toksisitas grade 3. Ke depannya, tim akan menambahkan fitur baru seperti: 1) Pemodelan prediktif risiko kegagalan studi berdasarkan performa rekrutmen, 2) Rekomendasi tindakan korektif menggunakan optimasi berbasis reinforcement learning, 3) Integrasi dengan platform telemedicine untuk kunjungan follow-up virtual, 4) Analisis sentimen pasien terhadap efek obat berbasis umpan balik digital, 5) Peningkatan interoperabilitas FHIR R5 untuk pertukaran data rekam medis digital.

Dalam mengoptimalkan pengalaman pengguna, Yonalink menerapkan prinsip desain Human-Centered Design (HCD) yang menempatkan peserta studi sebagai fokus utama. Setiap fitur diuji kembali melalui usability testing dengan kelompok fokus yang terdiri dari koordinator studi, perawat penelitian, serta relawan pasien. Hasilnya berupa antarmuka intuitif yang mengurangi kebutuhan pelatihan formal hingga 50 persen. Misalnya, alih-alih meminta perawat untuk mengisi 15 halaman formulir adverse event, sistem secara otomatis men-generate draft berdasarkan sintaksis Common Terminology Criteria for Adverse Events (CTCAE) versi 5.0. Pengguna cukup meninjau dan menyetujui usulan tersebut, sehingga waktu input berkurang dari 30 menit menjadi 3 menit. Di sisi sponsor, Yonalink menyediakan dasbor real-time untuk melacak Key Risk Indicators (KRI) seperti: 1) Jumlah pasien yang tidak datang kunjungan, 2) Persentase data yang belum diverifikasi oleh monitor, 3) Jumlah konsinyering obih investigasional di gudang farmasi, 4) Jumlah kejadian serius yang belum dilaporkan ke badan regulasi, 5) Perubahan kritis protokol yang memerlukan persetujuan etik tambahan. Dengan prinsip transparansi data, semua stakeholder dapat mengakses laporan berbasis permintaan yang menampilkan tren kinerja studi secara periodik. Sebagai hasilnya, tingkat kepuasan pengguna meningkat dari 3.2 menjadi 4.7 pada skala Likert 5 poin setahun setelah implementasi. Platform juga mendukung kepatuhan terhadap regulasi privasi data seperti HIPAA, GDPR, serta peraturan perlindungan data pribadi di Indonesia berdasarkan UU ITE No 11 Tahun 2008 sehingga informasi medis pasien dijamin kerahasiaannya.

Inovasi lain yang diperkenalkan Yonalink adalah pendekatan berbasis bukti untuk meningkatkan kualitas data uji klinis guna mendapatkan persetujuan regulasi lebih cepat. Platform menyediakan kerangka kerja statistical computing environment (SCE) yang terintegrasi dengan R, SAS, dan Python, memungkinkan statistikawan melakukan simulasi Monte Carlo untuk mengevaluasi performa desain uji klinis secara virtual sebelum pelaksanaan. Fitur ini terbukti memangkas risiko kegagalan studi karena underpowered sample size hingga 35 persen. Selain itu, mereka mengadopsi pendekatan master protocol seperti basket trial dan umbrella trial yang memungkinkan evaluasi multi-biomarker secara simultan. Studi fase II onkologi yang menggunakan master protocol berhasil mempercepat waktu seleksi kohort dari 18 bulan menjadi 7 bulan dengan menggabungkan 8 sub-studi menjadi satu platform adaptif. Untuk menjamin integritas data, Yonalink menerapkan teknologi blockchain berbasis Ethereum menggunakan smart contract untuk mencatat setiap perubahan data sebagai transaksi yang tidak dapat diubah. Mekanisme konsensus proof-of-authority digunakan untuk memvalidasi transaksi perubahan data oleh otoritas terverifikasi seperti sponsor, PI, serta monitor QA. Audit trail digital ini memenuhi prinsip ALCOA+ (Attributable, Legible, Contemporaneous, Original, Accurate, Complete, Consistent, Enduring, Available) yang dipersyaratkan oleh FDA 21 CFR Part 11. Dengan demikian, proses inspeksi oleh badan regulasi menjadi lebih lancar karena setiap perubahan data dapat dilacak secara otomatis sehingga memenuhi asas good clinical data management practice (GCDMP). Ke depannya, Yonalink akan menambahkan fitur baru seperti teknologi distributed ledger untuk interoperabilitas multi-situs secara global, memungkinkan transfer data lintas batas secara instan sambil tetap menjaga kepatuhan terhadap peraturan setempat.

Berbagai studi kasus implementasi Yonalink telah membuktikan dampak nyata dalam mempercepat waktu penyelesaian uji klinis. Sebagai contoh, perusahaan farmasi besar di Eropa berhasil menurunkan biaya operasional CRO sebesar 42 persen setelah beralih dari solusi lama berbasis spreadsheet ke Yonalink. Studi fase III diabetes berdurasi 3 tahun yang melibatkan 5.000 subjek di 12 negara berhasil diselesaikan 7 bulan lebih cepat dari jadwal semula karena otomasi pengumpulan data glukometer berbasis cloud. Sponsor tersebut menerapkan strategi centralized monitoring untuk meminimalkan kunjungan lapangan yang memakan waktu, sehingga menghemat biaya perjalanan dinas hingga 65 persen. Di Asia Tenggara, rumah sakit akademik ternama menggunakan Yonalink untuk studi vaksin dengue yang melibatkan 10.000 peserta anak-anak, dengan fitur e-consent berbasis tablet yang mempercepat proses informed consent dari 45 menit menjadi 7 menit per subjek. Hasil akhirnya, studi yang diperkirakan berlangsung 24 bulan rampung 4 bulan lebih cepat, sehingga vaksin dapat dipasarkan lebih cepat untuk menyelamatkan nyawa anak-anak di daerah endemis. Di Indonesia sendiri, Yonalink telah diadopsi oleh 15 lembaga penelitian untuk studi fase II kanker nasofaring yang berhasil mempercepat rekrutmen pasien dari target 14 bulan menjadi 9 bulan. Karena kesuksesan tersebut, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) merekomendasikan penggunaan sistem elektronik berbasis cloud untuk semua uji klinis baru, sehingga proses review regulasi menjadi lebih efisien. Dengan demikian, Yonalink terbukti sebagai solusi terdepan untuk mengoptimalkan uji klinis secara digital di Indonesia.

Ingin mengoptimalkan uji klinis Anda secara digital? Morfotech siap membantu dengan layanan pengembangan sistem manajemen data klinis berbasis cloud yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan protokol studi Anda. Tim ahli kami berpengalaman dalam mengintegrasikan platform seperti Yonalink ke dalam ekosistem teknologi kesehatan Anda. Konsultasikan kebutuhan otomasi data klinis Anda dengan kami melalui WhatsApp +62 811-2288-8001 atau kunjungi situs web kami di https://morfotech.id untuk mendapatkan solusi komprehensif terbaik yang sesuai dengan asas good clinical data management practice (GCDMP).

Sumber:
AI Morfotech - Morfogenesis Teknologi Indonesia AI Team
Rabu, September 3, 2025 3:01 PM
Logo Mogi