Bagikan :
clip icon

Korea Selatan Lonjakkan Anggaran Terbesar dalam Empat Tahun untuk Dorong Ekonomi Berbasis AI di Era Presiden Lee Jae Myung

AI Morfo
foto : Morfogenesis Teknologi Indonesia Creative Team

Korea Selatan menegaskan komitmennya menjadi pemimpin global dalam ekonomi berbasis kecerdasan buatan dengan menaikkan belanja anggaran pemerintah untuk tahun depan sebesar 9,8 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Lonjakan ini menjadi pertumbuhan tertinggi sejak 2022 dan menunjukkan arah kebijakan baru Presiden Lee Jae Myung yang menempatkan inovasi AI sebagai motor utama pertumbuhan ekonomi negara. Paket stimulus sebesar 685 triliun won Korsel atau setara 515 miliar dolar AS tersebut dialokasikan untuk empat pilar strategis. Pertama, pengembangan superkomputer nasional generasi kelima yang mampu mendukung pemodelan bahasa besar skala planet. Kedua, pembangunan klaster AI di Busan yang terintegrasi dengan pelabuhan pintar dan cadangan energi terbarukan. Ketiga, program pelatihan ulang bersertifikat untuk 1,2 juta pekerja pada sektor manufaktur konvensional agar mampu beralih ke industri 4.0. Keempat, pendanaan riset dasar di bidang semikonduktor generasi terbaru, khususnya chip memori HBM4E dan fotomask EUV. Langkah berani ini diharapkan akan mendorong pertumbuhan PDB sebesar 3,1 persen pada 2026 dan menambah 450.000 lapangan kerja berkualifikasi tinggi.

Secara struktural, peningkatan belanja ini merefleksikan pergeseran paradigma ekonomi Korea Selatan dari model pertumbuhan berbasis kekuatan manufaktur tradisional menuju ekosistem digital berkelanjutan. Pemerintah merinci alokasi dana melalui tujuh jalur utama. Pertama, 23,4 persen dari total anggaran atau sekitar 160 triliun won disalurkan ke insentif pajak bagi perusahaan yang mengadopsi solusi AI dalam rantai pasokan. Kedua, 17,9 persen untuk pengembangan pusat data nasional bertenaga 100 persen energi hijau yang akan mulai beroperasi di Jeolla Utara pada 2027. Ketiga, 14,6 persen diberikan sebagai hibah langsung kepada 250 perusahaan rintisan AI yang berfokus pada bidang kesehatan, keuangan, dan logistik. Keempat, 12,3 persen digunakan untuk memperluas jaringan 5G millimeter wave ke 82 kota kecil yang sebelumnya tidak terjangkau. Kelima, 11 persen dialokasikan pada program riset antar universitas untuk menciptakan model AI berbasis bahasa Korea, Jepang, dan bahasa daerah. Keenam, 9,8 persen digunakan untuk membangun cadangan strategis chip canggih guna mengantisipasi potensi krisis rantai pasokan. Ketujuh, sisanya 11,4 persen diprioritaskan untuk mendukung kemitraan publik-swasta dalam proyek prototipe mobil otonom level 5.

Tantangan pelaksanaan kebijakan ini tidak kecil karena harus menyeimbangkan tiga aspek kritis. Pertama, keberlanjutan fiskal jangka panjang. Dengan rasio utang terhadap PDB yang diperkirakan mencapai 57,4 persen pada 2025, Kementerian Keuangan menetapkan aturan fleksibel namun mengikat, yakni defisit primer tidak boleh melebihi 2,5 persen dalam skenario realistis dan 3,1 persen dalam skenario resesi global. Persyaratan ini diperkuat dengan pembentukan Dana Stabilisasi Teknologi sebesar 20 triliun won yang sumbernya berasal dari penjualan aset surat utang pemerintah ultra long tenor. Kedua, ketahanan geopolitik. Sebagai negara yang sangat bergantung pada impor material praktis seperti neon, xenon, dan gallium, Korea Selatan menandatangani perjanjian strategis dengan Australia, Kanada, dan Cina untuk memastikan pasokan 18 komponen kritis. Ketiga, isu regulasi AI yang berkelanjutan. Pemerintah menjanjikan kerangja regulasi berbasis risiko yang membedakan antara model AI generatif, sistem rekomendasi, dan sistem otonom. Empat prinsip utama dirumuskan: transparansi algoritma, audit wajib untuk model beresiko tinggi, hak penjelasan bagi warga negara, dan insentif pengembangan AI yang dapat dijelaskan. Kebijakan ini akan dievaluasi setiap enam bulan oleh lembaga independen yang beranggotakan akademisi, profesional industri, dan wakil masyarakat sipil.

Dampak ekonomi langsung dari lonjakan belanja ini diproyeksikan menciptakan efek multiplier yang kuat di berbagai sektor. Berdasarkan analisis BPS Korea dan lembaga riset KDI, setiap satu triliun won tambahan pada pengeluaran AI akan menghasilkan 1,6 triliun won kontribusi terhadap PDB dalam tiga tahun. Sektor yang diperkirakan paling cepat tumbuh meliputi: (1) Manufaktur robot kolaboratif yang diproyeksikan tumbuh 34 persen CAGR hingga 2028. (2) Layanan cloud AI khusus untuk klaster kecil dan menengah dengan potensi pertumbuhan 31 persen. (3) Industri konten kreatif berbasis AI generatif termasuk musik sintetis, film virtual, dan game adaptif. (4) Sektor energi terbarukan pintar seperti pembangkit listrik tenaga surya berbasis optimasi AI dengan peningkatan kapasitas 2,4 GW. (5) Industri logistik hibrida yang menerapkan armada drone, truk tanpa awak, dan sistem pergudangan otomatis. Untuk memastikan distribusi manfaat yang merata, pemerintah juga meluncurkan program K-Share berupa insentif bagi perusahaan kecil yang mau berbagi data pelatihan AI dengan UMKM di sektor terkait. Diperkirakan 120.000 usaha mikro akan terfasilitasi melalui program ini hingga 2029.

Secara global, keputusan Korea Selatan ini menandakan perubahan arus kekuatan ekonomi digital dunia. Jika berhasil, negara ini akan menjadi studi kasus pertama di mana transformasi AI dilakukan secara terencana dan skala nasional, bukan sekadar inisiatif korporasi. Tantangan terbesar adalah menjaga momentum politik dan dukungan publik. Survei Gallup Korea terbaru menunjukkan 71 persen responden mendukung kebijakan ini, namun 63 persen khawatir terhadap potensi kesenjangan digital. Untuk merespons kekhawatiran ini, pemerintah mempercepat empat langkah konkret: (1) Menjamin akses internet super cepat 10 Gbps gratis untuk 3.200 desa pinggiran. (2) Menyediakan paket pelatihan daring gratis berbasis AI untuk 5 juta warga lanjut usia dan penyandang disabilitas. (3) Menciptakan dana pensiun digital sebesar 12 triliun won yang hasil investasinya digunakan untuk subsidi internet generasi berikutnya. (4) Mengadakan festival AI untuk rakyat setiap tahun di 17 provinsi untuk meningkatkan literasi teknologi. Langkah ekspansif ini tidak hanya menempatkan Korea Selatan sebagai laboratorium global untuk ekonomi AI, tetapi juga menunjukkan bahwa kemajuan teknologi bisa berjalan beriringan dengan inklusi sosial jika perencanaan dilakukan secara holistik dan berkelanjutan.

Iklan Morfotech: Ingin mengoptimalkan transformasi digital bisnis Anda? Morfotech menyediakan solusi AI end-to-end yang telah terbukti membantu 300+ perusahaan di Asia Tenggara. Dari implementasi Large Language Model khusus industri hingga integrasi sistem ERP berbasis AI, tim ahli kami siap membantu Anda mencapai efisiensi maksimal. Konsultasi gratis via WhatsApp +62 811-2288-8001 atau kunjungi website https://morfotech.id untuk studi kasus lengkap dan demo interaktif.

Sumber:
AI Morfotech - Morfogenesis Teknologi Indonesia AI Team
Jumat, Agustus 29, 2025 2:04 PM
Logo Mogi