Bagikan :
clip icon

Ketika Gvantsa Jobava Ajak Kita Re-imajinasi Dunia Baca: Lima Hal Penting dari Konferensi Book 2.0 di Lisbon 2024

AI Morfo
foto : AI Morfo

Dari Kertas ke Piksel: Lisbon Sebagai Laboratorium Masa Depan Buku

Lisbon, 2024. Di antara lorong-lorong berwarna pastel Alfama dan gemuruh trem historik, terselip konferensi kecil namun ambisius—Book 2.0—yang berani menjanjikan sesuatu yang lebih besar ketimbang festival literatur kebanyakan: reinvention total dari cara kita membaca, menulis, dan mengimajinasikan diri sendiri lewat teks. Bukan sekadar memperbarui format digital, tetapi mempertanyakan ulang asumsi paling dasar: Apa yang sebenarnya kita maksud dengan “buku”? Apakah ia masih berupa objek tertutup, atau sudah menjadi ekosistem hidup yang tumbuh beriringan pembacanya? Di sinilah Gvantsa Jobava, wakil International Publishers Association (IPA), turun dari panggung intelektual ke lapangan empiris, menunjukkan bahwa masa depan bacaan tidak lagi berjalan linear seperti novel fiksi klasis, melainkan berkelindan seperti hypertext yang setiap tautannya bisa menentukan arus nasib pengetahuan global.

Gvantsa Jobava: Duta Buku dari Kaukasus yang Menjembatani Dunia

Mengapa kehadiran Gvantsa Jobava menjadi magnet paling menarik? Karena ia bukan sekadar nama besar di dunia penerbitan; ia adalah metafora berjalan tentang bagaimana batas geografi kini tidak lagi relevan. Lahir di Tbilisi, Georgia—negara yang sempat terisolir secara ekonomi—Jobava membangun jaringan distribusi daring yang menjadikan buku-buku Georgia berbahasa Inggris mengalir ke seluruh dunia tanpa menunggu izin gudang penerbit Barat. Di Lisbon, ia berbagi bagaimana algoritma rekomendasi buku yang dibangunnya tidak terjebak dalam echo chamber budaya, melainkan secara sengaja memasukkan literatur lokal minoritas ke dalam playlist pembaca global. “Ketika pembaca Skandinavia menemukan novel grafis Tbilisi tentang perempuan penyair, mereka tidak lagi membaca cerita asing; mereka membaca versi diri mereka sendiri yang belum sempat dituliskan,” ujarnya, menimbulkan tepuk tangan panjang. Intinya: teknologi seharusnya memperlebar, bukan menyempitkan, solidaritas global.

Reinventing Reading: dari AI Curator hingga Realitas Tertambah yang Tidak Membunuh Perasaan

Book 2.0 bukan pameran teknologi kosong. Yang membuatnya revolusioner adalah cara para panelis menyandingkan AI dengan empati. Ambil saja sesi Immersive Bibliotherapy, di mana desainer Spanyol, Ines García, menunjukkan aplikasi AR yang menampilkan pop-up emosi berdasarkan detak jantung pembaca. Jika detak naik, cerita otomatis melambat, menambahkan karakter pendamping yang menenangkan. “Kami tidak menerjemahkan kata, kami menerjemahkan suasana hati,” katanya. Di pojok lain, Jobava menantang para pengembang untuk membangun AI curator yang etis: “Jangan sampai algoritma hanya memberi pembaca apa yang mereka inginkan, tapi juga apa yang mereka butuhkan—kebenaran yang kadang pahit.” Para peserta disuguhi eksperimen di mana pembaca bisa memilih jalur narasi yang menampilkan deepfake wawancara dengan penulis sejarah—teknik yang digunakan untuk mendorong rasa ingin tahu, bukan manipulasi. Inti pesan: teknologi boleh canggih, tetapi pengalaman membaca harus tetap human-first.

Manusia Dulu, Platform Kemudian: Formula Inklusivitas yang Tidak Sekedar Slogan

Jika ada satu pertanyaan yang kembali muncul di setiap sesi, itu adalah: “Bagaimana kita memastikan revolusi digital tidak meninggalkan mereka yang belum tersentuh infrastruktur?” Jobava menjawab dengan mencetuskan istilah “reverse subsidy”—model di mana penerbit besar menarik biaya platform dari pasar mampu, lalu menyubsidi perangkat baca digital untuk komunitas terpencil di Asia Tengah, Afrika Sub-Sahara, dan Papua Nugini. “Ketika kita menjual ebook premium seharga USD 15, sepuluh persennya langsung masuk ke dana pembelian tablet ringan untuk anak-anak pedalaman,” ia tegas. Sebuah studi kasus yang dipaparkannya menunjukkan peningkatan 40 % literasi digital dalam satu tahun di wilayah pegunungan Georgia berkat skema tersebut. Di sesi tanya jawab, seorang mahasiswa Indonesia bertanya apakah model itu bisa diterapkan di Kepulauan Natuna; Jobava menjawab dengan antusias: “Indonesia punya 17.000 pulau—bukan tantangan, itu canvas terluas untuk percetakan sosial.”

Epilog: Jika Bisa Dibaca, Maka Bisa Dirubah—Dan Indonesia Punya Peran Jauh Lebih Besar

Ketika konferensi ditutup dengan keynote bersama yang menampilkan tarian tradisional Portugis berirama fado digital, para delegat menyadari: perubahan tak akan pernah semulus kertas, tetapi ia bisa selurus tekad manusia. Gvantsa Jobava meninggalkan satu kalimat yang tercetak di badge setiap peserta: “Buku tidak mati; ia baru saja memperoleh nafas baru.” Bagi kita di Indonesia, pelajaran besar adalah: jangan menunggu Lisbon 2025 untuk mulai bertindak. Mari kita bangun jaringan penerbit lokal yang berkolaborasi dengan developer Indonesia untuk menciptakan platform baca berbasis Bahasa Indonesia dan daerah yang mampu menandingkan Wattpad—tetapi dengan etika distribusi hasil yang adil. Karena pada akhirnya, membaca adalah hak asasi, dan setiap kepulauan berhak menulis babnya sendiri. Ingin tahu bagaimana teknologi bisa menyalakan kembali gairah membaca generasi kita? Kunjungi morphotech.id dan temukan solusi digital publishing yang dirancang khusus untuk Nusantara oleh Morfogenesis Teknologi Indonesia. Mari re-imajinasi dunia baca—bersama.

Sumber:
AI Morfotech - Morfogenesis teknologi indonesia creative team
Senin, Agustus 18, 2025 11:00 PM
Logo Mogi