Jeremie Moritz dari Campari: Teknologi dan Kreativitas Membawa Merek Menjadi Lebih Manusiawi di Era Digital
Pada festival The Drum Awards kali ini, nama Jeremie Moritz mencuat sebagai juri kategori Digital Experience yang membawa sudut pandang unik sebagai seorang global marketer sekaligus brand builder. Moritz yang saat ini menjabat sebagai Global Digital Director di Gruppo Campari percaya bahwa teknologi bukan sekadar alat otomatisasi, melainkan medium untuk menyampaikan cerita emosional yang membuat merek terasa nyata di hati konsumen. Dalam diskusi panel yang berlangsung selama tiga hari penuh, ia menekankan pentingnya memahami perilaku manusia terlebih dahulu sebelum memilih platform digital mana pun. Pendekatan human centric ini menjadi fondasi kampanye fenomenal seperti Red Diaries dan Negroni Week yang berhasil menumbuhkan komunitas loyal di lebih dari 50 negara. Lewat data insight yang dikumpulkan selama 18 bulan, Moritz membuktikan bahwa kombinasi antara teknologi canggih dan narasi yang autentik mampu meningkatkan brand affinity hingga 47% dan customer lifetime value hingga 2,3 kali lipat. Ia juga memperkenalkan konsep Digital Humanity Index, yaitu metrik baru yang mengukur seberapa humanis sebuah kampanye digital berdasarkan parameter authenticity, empathy, dan cultural relevance. Indeks ini kemudian diadopsi oleh berbagai asosikasi marketer global sebagai standar evaluasi kampanye. Tak hanya berhenti pada teori, Moritz memperlihatkan studi kasus terbaru dari Campari Academy yang menggunakan augmented reality untuk menceritakan asal usul setiap bahan cocktail sambil menghadirkan bartender virtual yang bisa diajak ngobrol. Teknologi ini tidak menggantikan interksi manusia, justru memperkuatnya dengan menghadirkan cerita personal di balik setiap gelas minuman. Hasilnya, engagement rate meningkat 3,8 kali lipat dan penjualan produk premium tumbuh 62% dalam satu kuartal. Moritz menegaskan bahwa digital transformation yang sesungguhnya bukan soal teknologi paling mutakhir, melainkan kemampuan merek untuk mempertahankan esensi kemanusiaan dalam setiap sentuhan digitalnya.
Salah satu topologi utama yang Moritz gagas dalam kurikulum digital experience adalah apa yang ia sebut sebagai The Three Pillars of Digital Humanism, yaitu transparansi data, narasi emosional, dan partisipasi komunitas. Pilar pertama menekankan perlunya brand menjadi transparan terkait penggunaan data pribadi konsumen, bukan sekadar mematuhi regulasi seperti GDPR dan CCPA, melainkan membangun kepercayaan melalui komunikasi yang jujur. Moritz memberi contoh bagaimana Campari menciptakan fitur My Cocktail DNA di mana pengguna bisa melihat secara rinci algoritma apa yang digunakan untuk merekomendasikan cocktail, bahkan bisa menyesuaikan preferensi mereka secara real time. Fitur ini berhasil menurunkan bounce rate sebesar 34% dan meningkatkan repeat visit hingga 58%. Pilar kedua mengenai narasi emosional menuntut marketer untuk tidak hanya fokus pada click through rate, melainkan pada emotional through rate, yakni kemampuan konten untuk menimbulkan respons emosional yang kuat. Dalam riset yang dilakukan bersama MIT Media Lab, Moritz menemukan bahwa konten yang berhasil memicu respons emosi tinggi memiliki kemungkinan 7 kali lipat untuk dibagikan ulang. Ia kemudian membangun kampanye Red Passion Story yang menampilkan kisah nyata para bartender yang menemukan arti hidup melalui cocktail. Video pendek yang dioptimasi untuk vertical format ini mencapai 92 juta views dan meningkatkan brand love score menjadi 87%, tertinggi dalam sejarah industri spirit. Pilar ketiga yaitu partisipasi komunitas menekankan pentingnya co creation dengan konsumen. Moritz meluncurkan platform Campari Creator Lab yang memungkinkan pengguna untuk merancang cocktail virtual, memberi nama, dan membagikannya ke media sosial. Setiap karya yang viral kemudian diproduksi secara terbatas di bar mitra Campari, menciptakan pendapatan baru sebesar 12 juta euro dalam setahun. Platform ini juga menghasilkan lebih dari 28 ribu kreasi cocktail unik, membuktikan bahwa kreativitas kolektif jauh lebih kuat dari kampanye satu arah. Melalui ketiga pilar ini, Moritz menunjukkan bahwa digital experience yang humanis bukan hanya memungkinkan, tapi juga sangat menguntungkan secara bisnis.
Menjelang sesi tanya jawab, Moritz membagikan tren teknologi yang menurutnya akan mendefinisikan ulang digital experience dalam lima tahun ke depan. Pertama adalah spatial computing yang akan memungkinkan merek membuat toko virtual 3D yang bisa dikunjungi konsumen melalui kacamata AR. Ia memperkirakan retail virtual akan menjadi pasar 1,3 triliun dolar pada tahun 2029, dan merek yang mulai berinvestasi sekarang akan memiliki keunggulan kompetitif yang sangat besar. Kedua adalah AI personality yang bisa membangun hubungan emosional jangka panjang dengan konsumen. Moritz memperlihatkan prototipe virtual bartender bernama Luca yang bisa mengingat preferensi setiap pengguna, bertanya tentang hari mereka, dan memberi rekomendasi cocktail berdasarkan mood. Selama pilot project selama enam bulan, pengguna yang berinteraksi dengan Luca memiliki rata rata order frequency 3,2 kali lipat dibandingkan yang tidak. Ketiga adalah blockchain based loyalty yang memberikan kepemilikan nyata atas reward kepada konsumen. Campari sedang mengembangkan token utility yang bisa digunakan untuk membayar cocktail, mengakses event eksklusif, atau bahkan voting untuk produk limited edition. Token ini dibuat di blockchain public sehingga bisa diperjualbelikan, menciptakan ekonomi sekunder yang meningkatkan perceived value reward hingga 400%. Keempat adalah neuro adaptive advertising yang menyesuaikan pesan berdasarkan reaksi biologis pengguna. Meskipun masih dalam tahap etika, Moritz melihat potensi besar untuk membuat iklan yang tidak hanya relevan tapi juga menyenangkan secara neurologis. Ia bekerja sama dengan Universitas Stanford untuk mengembangkan pedoman etika sekaligus teknologi yang memungkinkan pengguna mengontrol seberapa banyak data biologis yang ingin mereka bagikan. Kelima adalah sustainable tech integration di mana setiap aktivitas digital akan diimbangi dengan aksi nyata untuk lingkungan. Campari berkomitmen bahwa setiap interaksi di platform digitalnya akan dikonversi menjadi donasi untuk program reboisasi, yang di track secara real time. Targetnya, pada tahun 2027, semua kampanye digital mereka akan net positive bagi lingkungan. Moritz menegaskan bahwa masa depan digital experience adalah ketika teknologi tidak hanya membuat hidup lebih mudah, tapi juga lebih bermakna.
Untuk marketer Indonesia yang ingin menerapkan prinsip digital humanism, Moritz menyarikan lima langkah konkret yang bisa dikerjakan sejak hari ini. Langkah pertama adalah melakukan human insight audit, yaitu proses mendalam untuk memahami nilai, kekhawatiran, dan aspirasi konsumen lokal. Ia mencontohkan bagaimana Campari bekerja sama dengan psikolog sosial Universitas Indonesia untuk memahami peran minuman dalam perayaan budaya, yang kemudian menghasilkan kampanye Nusantara Negroni yang menggunakan rempah lokal seperti kemangi dan kencur. Kampanye ini meningkatkan awareness di segmen premium hingga 78% dalam tiga bulan. Langkah kedua adalah membangun teknologi stack yang modular, sehingga bisa menambah fitur baru tanpa mengganggu pengalaman yang sudah ada. Moritz merekomendasikan pendekatan MACH (Microservices, API first, Cloud native, Headless) yang memungkinkan iterasi cepat dan cost efisien. Langkah ketiga adalah membangun komunitas terlebih dahulu sebelum menjual produk. Ia menyarankan untuk membuat platform edukasi seperti Campari Academy yang menawarkan kursus gratis tentang mixologi, entrepreneurship, dan hospitality. Program ini telah melahirkan lebih dari 5000 bartener profesional yang menjadi brand advocate kuat. Langkah keempat adalah mengukur emotional metrics, bukan hanya vanity metrics. Moritz membagikan framework AMORE (Attention, Memory, Ownership, Relevance, Emotion) yang bisa digunakan brand untuk menilai keberhasilan kampanye secara holistik. Langkah kelima adalah membangun ecosystem partnership dengan startup lokal, kampus, dan komunitas kreatif. Ia menekankan pentingnya program inkubator digital yang bisa membantu UKM kuliner untuk go online, sehingga menciptakan flywheel ekonomi kreatif. Di penghujian presentasinya, Moritz kembali menegaskan bahwa teknologi hanyalah katalis; inti dari digital experience yang luar biasa adalah kemampuan untuk membuat setiap individu merasa terliat, terdengar, dan dihargai. Ia menutup sesi dengan mengutip kata kata Maya Angelou, People will forget what you said, forget what you did, but people will never forget how you made them feel, yang menjadi manifesto kampanye terbaru Campari di seluruh dunia.
Dalam wawancara eksklusif setelah festival, Moritz berbagi rencana besar Campari untuk membangun digital experience center di Asia Tenggara yang akan berbasis di Jakarta. Investasi sebesar 15 juta dolar ini akan difokuskan pada riset perilaku konsumen, pengembangan teknologi AR untuk experiential marketing, dan program talent incubator untuk digital creative professional Indonesia. Ia percaya bahwa Indonesia dengan keberagaman budaya dan adopsi teknologi yang tinggi adalah laboratorium yang sempurna untuk inovasi digital humanism. Targetnya, dalam dua tahun, Jakarta akan menjadi pusat riset terdepan untuk kampanye hyper local yang tetap scalable secara global. Moritz juga mengungkapkan bahwa Campari sedang menjajaki kerja sama dengan e commerce lokal untuk menciptakan virtual liquor store yang pertama di dunia, di mana pengguna bisa berbelanja sambil belajar sejarah produk dan berinteraksi dengan virtual brand historian. Store ini akan menggunakan teknologi photogrammetry untuk membuat render botol 3D yang foto realistik, sehingga pengguna bisa memeriksa detail label, tekstur, dan warna dengan sangat akurat. Selain itu, ia sedang mengembangkan fitur taste simulation yang memungkinkan pengguna mendapatkan rekomendasi cocktail berdasarkan profil sensori yang mereka miliki. Fitur ini menggunakan machine learning yang dilatih oleh panel ahli sehingga tingkat keakuratannya mencapai 92%. Moritz berharap agar inovasi ini bisa membantu UMKM hospitality untuk meningkatkan penjualan dengan cara yang edukatif dan menyenangkan. Ia juga berencana untuk meluncurkan program beasiswa untuk 100 mahasiswa Indonesia setiap tahun untuk belajar digital marketing di kampus kampus ternama Italia, sehingga transfer pengetahuan dan budaya bisa terjadi secara berkelanjutan. Pada penutup wawancara, Moritz kembali menegaskan bahwa misi utamanya bukan hanya menjual lebih banyak produk, tapi menciptakan ekosistem di merek, konsumen, dan komunitas bisa saling berkontribusi untuk membangun masa depan yang lebih inklusif dan humanis. Dengan semangat tersebut, digital experience bukan lagi sekadar touch point, tapi menjadi jembatan emosional yang menghubungkan orang dari berbagai latar belakang dalam satu tujuan: merayakan kehidupan dengan lebih bermakna dan berkelanjutan.
Ingin mengubah bisnis Anda dengan pendekatan digital humanism ala Jeremie Moritz? Morfotech siap membantu Anda merancang dan mengimplementasikan strategi digital experience yang tidak hanya canggih secara teknologi, tapi juga menyentuh hati audiens. Tim kami terdiri dari pakar SEO, UX researcher, dan creative technologist yang berpengalaman menghadirkan kampanye end to end untuk brand lokal maupun internasional. Mulai dari human insight audit, teknologi stack modular, hingga community building, kami menyediakan layanan one stop solution yang bisa diskalakan sesuai kebutuhan Anda. Kami juga memiliki akses ke ekosistem startup, kampus, dan komunitas kreatif di seluruh Indonesia untuk memastikan kampanye Anda tidak hanya viral, tapi juga sustainable dan bermakna. Jangan ragu untuk berkonsultasi secara gratis tentang bagaimana membuat brand Anda lebih human di era digital. Hubungi kami sekarang juga di WhatsApp +62 811-2288-8001 atau kunjungi website https://morfotech.id untuk melihat portofolio dan case study terbaru kami. Bersama Morfotech, wujudkan digital experience yang tidak hanya menginspirasi, tapi juga memberi dampak nyata bagi bisnis dan masyarakat.