Bagikan :
clip icon

China Semakin Percaya Diri Berebut Pengaruh Global Saat Trump Mundur dari Arena Internasional

AI Morfo
foto : Morfogenesis Teknologi Indonesia Creative Team

China kini menunjukkan kepercayaan diri yang lebih tinggi dalam merebut pengaruh global, terutama setelah bentrokan perdagangan dengan Amerika Serikat. Saat Donald Trump fokus pada kebijakan isolasionis dan menarik diri dari komitmen internasional, Beijing melihat peluang emas untuk memperluas soft power dan hard power-nya. Analis geopolitik menyatakan bahwa pendekatan pragmatis Trump, yang mengonsentrasikan sumber daya di Amerika, justru membuka ruang bagi China untuk mendominasi Asia dan wilayah lainnya. Artikel ini mengupas strategi China yang semakin agresif di tengah perubahan dinamika kekuatan dunia, dengan fokus pada implikasi bagi teknologi dan ekonomi global.

Pasca-perang dagang era Trump pertama, China merasa diberdayakan. Beijing berhasil mempertahankan pertumbuhan ekonomi meski menghadapi tarif tinggi dari AS. Kini, dengan Trump kembali berkuasa dan menjanjikan fokus pada Amerika Pertama, China memanfaatkan momentum ini. Alih-alih pivot ke Asia seperti yang direncanakan Obama, AS kini mundur, memungkinkan inisiatif seperti Belt and Road Initiative (BRI) China berkembang pesat. BRI telah menghubungkan lebih dari 140 negara dengan infrastruktur dan investasi senilai triliunan dolar, memperkuat pengaruh ekonomi China di Afrika, Eropa Timur, dan Asia Tengah.

Dalam ranah soft power, China berinvestasi besar pada diplomasi teknologi. Perusahaan seperti Huawei dan TikTok menjadi alat utama untuk menyebarkan pengaruh budaya dan digital. Meski menghadapi pembatasan di Barat, China berhasil membangun aliansi dengan negara berkembang melalui 5G dan AI. Sementara AS sibuk dengan isu domestik seperti imigrasi dan energi, China memimpin forum internasional seperti BRICS dan SCO, di mana ia memposisikan diri sebagai pemimpin alternatif terhadap dominasi Barat. Hal ini terlihat dari peningkatan ekspor teknologi China yang mencapai rekor baru pada 2025.

Trump yang pragmatis mengakui kebangkitan China, baik dalam militer maupun pengaruh lunak. Dengan mundurnya AS dari perjanjian seperti Paris Climate Accord dan WHO di masa lalu, China mengisi kekosongan tersebut. Beijing kini memimpin upaya iklim global dan bantuan pandemi, meningkatkan citranya sebagai negara bertanggung jawab. Di bidang teknologi, China unggul dalam paten AI dan kendaraan listrik, menggeser pusat inovasi dari Silicon Valley ke Shenzhen. Bagi Indonesia, ini berarti peluang kerjasama dengan China di sektor digital economy melalui ASEAN.

Implikasi jangka panjang dari jockeying China ini adalah perubahan tatanan dunia multipolar. AS mungkin tetap kuat secara militer, tapi China unggul dalam konektivitas ekonomi dan teknologi. Negara-negara seperti Indonesia harus bijak memanfaatkan peluang sambil menjaga keseimbangan. Pantau perkembangan ini untuk strategi bisnis dan investasi di era baru geopolitik. Morfotech.id menyajikan analisis mendalam untuk membantu Anda navigasi tren global ini.

Iklan Morfotech whatsapp +62 811-2288-8001 website https://morfotech.id

Sumber:
AI Morfotech - Morfogenesis Teknologi Indonesia AI Team
Kamis, Desember 4, 2025 12:16 AM
Logo Mogi