AI Music Could Hurt Artists in Spain, New Study Says
Laporan terbaru yang dikeluarkan oleh SGAE, organisasi pengelola hak cipta asal Spanyol, menunjukkan bahwa generasi musik berbasis kecerdasan buatan akan merugikan pendapatan para seniman di negeri itu. Studi independen yang berjudul “The Economic and Social Impact of Artificial Intelligence in the Spanish Music Sector” memproyeksikan bahwa pada tahun 2028 pendapatan kreator musik bisa turun drastis hingga 28 persen, yang setara dengan lebih dari 100 juta euro. Penyusunan laporan ini melibatkan analisis kuantitatif terhadap data penjualan, streaming, dan pertunjukan sejak 2020, serta wawancara mendalam dengan 312 musisi, label indie, manajer, pengacara hiburan, hingga eksekutif platform digital. Hasilnya menunjukkan bahwa alih-alih menurunkan biaya produksi, adopsi AI tanpa batas justru memicu pasar yang jenuh akan konten murah, menekan harga karya manusia, dan berujung pada penurunan permintaan terhadap musisi profesional. Di tengah kekhawatiran ini, SGAE menekankan perlunya kebijakan pelindung yang menjamin royalti adil, transparansi algoritma, serta pembatasan penggunaan karya berhak cipta untuk melatih model AI tanpa izin eksplisit.
Secara teknis, laporan itu memaparkan bahwa sebagian besar sistem pembelajaran mesin bagi musik mengandalkan dataset besar berisi trek berhak cipta tanpa perizinan, yang diambil dari layanan streaming, situs unduh ilegal, hingga arsip radio. Praktik ini memicu klaim pelanggaran hak pencipta, karena karya yang digunakan untuk melatih model tidak memberikan kompensasi kepada pemegang hak. Diperparah dengan kehadiran generator lagu yang dapat meniru gaya vokal, nada, hingga lirik, sehingga pendengun sering kali tidak lagi dapat membedakan apakah lagu yang dinikmati diciptakan manusia atau mesin. Oleh karena itu, penurunan pendapatan bukan hanya berasal dari penjualan yang tergeser, tetapi juga dari perubahan psikologis konsumen yang merasa cukup membayar langganan platform murah berbasis AI ketimbang membeli album fisik atau tiket konser. Studi juga mencatat bahwa tren ini membuat label rekaman semakin menahan diri untuk berinvestasi pada artis baru, karena mereka mempertimbangkan bahwa AI dapat menghasilkan lagu dalam hitungan detik dengan risiko rendah.
Dampak sosial dari fenomena AI music di Spanyol mulai terlihat nyata, khususnya di komunitas musisi independen yang mengandalkan penjualan tiket, merchandise, dan royalti kecil dari streaming. Sebagai ilustrasi, band indie dari Barcelona yang rata-rata menerima 2.300 euro per bulan pada 2022 kini berpenghasilan hanya 1.650 euro pada 2024, setelah platform streaming memperkenalkan fitur stasiun otomatis berbasis AI yang memotong aliran pendengar. Selain itu, klub malam merasa tidak perlu lagi membayar DJ, karena perangkat lunak dapat membuatkan daftar putar dinamis yang menyesuaikan suasana secara real time. Fenomena ini berarti berkurangnya kesempatan bagi musisi untuk memperoleh pendapatan dari pertunjukan, yang selama ini menjadi penopang utama mereka. Laporan juga menunjukkan bahwa genre tradisional seperti flamenco, gaita, dan rumba Catalana terancam punah karena AI lebih mudah menghasilkan lagu berbahasa Inggris bertempo pop yang dianggap lebih komersial. Akibatnya, keanekaragaman budaya lokal menurun, dan generasi muda mulai menganggap musik sebagai komoditas tanpa nilai historis.
Untuk merespons ancaman ini, SGAE mengusulkan sejumlah rekomendasi kebijakan yang dibagi ke dalam tiga kategori utama: perlindungan hak, kewajiban transparansi, dan penggalakan literasi digital. Pertama, organisasi tersebut menyerukan agar pemerintah Spanyol menerapkan tarif royalti wajib untuk setiap karya yang digunakan untuk melatih model AI, yang besarnya ditetapkan minimal 1,8 eurocent per menit. Kedua, platform distribusi wajib menyediakan fitur “human-only” search, sehingga pengguna dapat memfilter hasil pencarian agar hanya menampilkan lagu buatan manusia. Ketiga, setiap label rekaman maupun platform harus mencantumkan keterangan “AI-generated” pada metadata lagu, memungkinkan konsumen mengetahui asal-usul karya. SGAE juga bekerja sama dengan universitas untuk meluncurkan program sertifikasi produser musik yang menekankan etika, sehingga generasi baru dapat memahami pentingnya menghormati hak cipta. Studi kasus di dua kota, Valencia dan Bilbao, memperlihatkan bahwa penerapan royalti pelatihan dapat meningkatkan pendapatan musisi lokal hingga 11,7 persen dalam enam bulan, menunjukkan potensi keberhasilan kebijakan ini jika diterapkan secara nasional.
Melihat proyeksi global, tantangan serupa juga dihadapi di negara-negara anggota Uni Eropa lainnya, di mana kerangka hukum AI Act mulai berlaku secara bertahap. Namun, sektor musik belum secara eksplisit mendapatkan perlindungan khusus, membuat stakeholder di berbagai negara mengawasi langkah Spanyol sebagai eksperimen penting. Jika rekomendasi SGAE berhasil diterapkan, Spanyol dapat menjadi model bagi negara lain dalam menyeimbangkan inovasi teknologi dan keadilan distribusi pendapatan. Di sisi lain, perusahaan teknologi berbasis AI music menilai kebijakan ketat akan mencegah inovasi dan memicu migrasi server ke yurisdiksi longgar, namun studi membuktikan bahwa industri tetap tumbuh selama nilai ekonomi kembali ke ekosistem kreatif. Karena itu, kolaborasi antara regulator, akademisi, dan pelaku industri menjadi kunci untuk menghasilkan solusi yang berkelanjutan. Dengan kata lain, masa depan musik di Spanyol dan Eropa bergantung pada kemampuan mereka menetapkan batas etis sekaligus membuka ruang kreativitas yang adil dan inklusif.
Ingin mengembangkan platform musik digital yang mematuhi etika hak cipta dan tetap mengedepankan inovasi? Morfotech siap membantu. Kami menyediakan jasa konsultasi teknologi, pengembangan aplikasi berbasis AI yang sesuai regulasi, serta integrasi sistem royalti transparan. Hubungi tim kami di WhatsApp +62 811-2288-8001 atau kunjungi https://morfotech.id untuk mendiskusikan kebutuhan projek Anda. Bersama Morfotech, wujudkan solusi digital yang adil, aman, dan berkelanjutan.